Cuaca di Tangerang lagi tak menentu, tiba-tiba panas, tiba-tiba mendung, tiba-tiba terang lagi, dan tiba-tiba hujan deras sekali mengguyur kota itu. Dhee terjang guyuran hujan itu dengan Sepeda motornya, Dhee harus berkejar-kejaran dengan waktu, Dia melirik jam tanganya menunjukkan pukul 12.15. "Hari Sabtu kantor Pos buka cuma sampai jam satu, berarti masih ada waktu sekitar 45 menit ni.." gumam Dhee. Cepat-cepat Dhee berganti pakaian yang telah basah karena hujan, kemudian Menyampul sebuah buku, judulnya "Negeri 5 Menara yang di tulis oleh Ahmad Fuadi" yang baru saja dia beli, dia akan kirimkan ke Ibunya di Trenggalek. Dengan cepat Dhee menulis beberapa kata untuk dia selipkan di buku itu.
"Teruntuk Ibunda Tersayang,... Dhee kabarnya baik bu, pastilah ibu tau, tiap hari kan Dhee telfon Ibu, hehehe. Dhee ga isa nulis ni bu.. Bingung mo nulis apa.. yang pasti Dhee sangat Cinta dan Sayang ma Ibu. Kalau ada waktu luang Ibu baca ya, buku ini. O ya Terimakasih buat bapak yang mengijinkan Dhee punya Impian. Peluk Cium dari Ananda : Dhee Samu"
Begitulah Dhee menulis suratnya kepada Ibundanya, singkat, padat, ga jelas. Kemudian dia selipkan sedikit rejeki yang diterimanya. "Bismillahirrahmanirrahim.. semoga berkah" batinya. Dhee langsung membungkus dengan kertas payung coklat. "Jam satu pas" gumamnya sambil melirik jam dinding yang ada di ruang tamu rumahnya. Dhee langsung menuju kantor Pos dengan tergesa-gesa dan berharap hari ini beruntung, tetapi nasib berkata lain, Dhee harus kecewa setelah tau kantor yang ber cat jingga itu sudah sepi dan tergembok dengan rapat. "Sudah tutup Mbak.. kalau hari Sabtu cuma setengah hari" teriak seorang bapak-bapak yang melihat Dhee terdiam sebentar di pintu gerbang Kantor Pos tersebut. Dhee menoleh ke arah suara itu dan tersenyum kecut. Kemudian dia melirik jam tanganya 13:05. "lewat 5 menit" gumamnya sambil menarik nafas panjang. Dhee membelokkan motornya tuk pulang kembali ke rumah, Dia menimbang-nimbang apa yang akan dia lakukan, yang ada difikiranya hanya bagaimana paket buku itu cepat sampai di Ibundanya. "Dhee paketin Sabtu depan atau hari ini ke JNE ya?" fikir Dhee. dalam perjalanan pulang ke rumah Dhee, membaca plangkat sederetan Ruko, dia mencari-cari kantor Jasa Pengirimin Paket. dan "Aha.. itu dia tempatnya" batin Dhee sumringah, setelah melihat tulisan JNE Express Across Nations, dia langsung membelokkan Sepeda motornya dan berfikir akan lebih cepat ni paket sampai, daripada menunggu minggu depan. karena Senin samapi Jumat Dhee kerja dan untuk ijin keluar sangat susah.
---
Tepat satu minggu setelah paket itu dikirimkan Dhee mencoba konfirmasi ke Ibunya, dan ternyata paket belum sampai. "Mungkin besok Senin" gumam Dhee. "kalau besok Senin lom sampai juga, baru deh konfirmasi ke JNE" fikir Dhee. Senin pagi Dhee langsung telfon JNE dan ya ampun susah sekali masuknya, setelah masuk di bilang bahwa paketan hari ini meluncur ke Trenggalek, sampai di Surabaya dari hari Selasa minggu lalu. "Mungkin ntar sore baru sampek tu paket" batin Dhee. Selasa pagi Dhee konfirmasi lagi ke Ibunya dan ternyata paket belum datang. Dhee sudah sedikit emosi, dia kembali telfon JNE, disuruh bikin laporan dan lain sebagainya. Dhee ikutin semua prosedur dan berharap paket itu cepat sampai ke tangan Ibunda tercinta. Namun hari berikutnya lagi-lagi paket belum sampai. Dhee mencoba contact JNE lewat e-mail, ada tanggapan walaupun tanggapan standart sudah membuat Dhee sedikit lega. "Mbak.. tolong kalau mang paketnya tidak bisa terkirim, balikin ke saya, saya akan kirim lewat yang lain, saya sudah capek mbak menunggu, soalnya tiap di telfon besok -besok terus, bilang yang pasti kapan paketan itu sampai" begitulah Dhee menulis e-mail atau berbicara langsung ke Customer Service nya JNE. Walaupun merasa kesal Dhee konfirmasi ke JNE, begitu seterusnya sampai Dhee sudah lelah untuk Complain, Dhee lelah konfirmasi,.. Hari ke-17 Dhee meratap ke Allah "Ya.. Allah, Dhee ga tahu harus usaha apa lagi tuk paket itu akhirnya sampai ke tangan Ibu, Dhee dah capek ya Allah". Hp dhee berdering. terpampang pada layar nomer yang tak dikenalin Contact Hp 021... "Nomer lokal" batin Dhee, dengan malas dia angkat telfon dan "hallo...". "iya pak.." "terimaksih". begitulah kiranya Dhee menimpali kata orang yang barusan menelfonya. "Alhamdilillah, terimkasih ya Allah, mang percuma mengeluh ke orang, andai saja kemarin-kemarin ku langsung minta ke Allah, ku kan tidak kecewa... karena Allah selalu tau apa yang aku butuhkan...Sekali lagi terimakasih ya Allah.. Paketan itu akhirnya sampai juga ke tangan Ibu" Ucap Dhee lirih sambil terus menerawang.
---
"Dhee ga akan paketin lagi lewat JNE, bikin Dhee marah-marah, emosi, dan capek hati". kata Dhee ke Samu saat sore itu, tepat hari ke-17 sore, saat Samu menanyakan tentang paketan untuk Ibu. Samu hanya tersenyum "Gak papa, buat pengalaman, pengalaman tu mahal lo Yank... harus ditebus dengan kesabaran yang panjang" katanya kalem. Aku memandangnya dengan malas, "Udah ah... manyun nya, tambah jelek tu" kata Samu sambil mengacak-ngacak rambutku. "Apaan sih" kataku pura-pura marah sambil cubit pinggang Samu. "Ampun Sayank.." kata Samu cengar-cengir menahan sakit. Aku tertawa sambil berlalu tuk siapin makan sore kita hari itu. Rasa kesal 17 hari menunggu itu menguap tak bersisa, yang ada sekarang harapan tuk segera bisa mengirimkan paket lagi ke Ibu. pi tetap tekad Dhee dah bulat, Dhee cuma akan paketin lewat kantor Pos.
NB : Suamiku.. terimakasih atas kelapangan hatinya dan pengertianya. Nanti kita diskusikan paket buat bulan depan ya!. LOVE u so much.....
"Selamat Siang, Kaka... ada yang bisa kami bantu?" tanya seorang petugas.
"Iya ni Mbak.. mau maketin" kata Dhee sambil tersenyum, dan mengambil duduk tepat dihadapan si Mbaknya.
"Ke Trenggalek ya Kak.." katanya sambil menuliskan nama Penerima dan alamatnya.
"Yap" kata Dhee bersemangat. "Sampainya kapan ya Mbak?" tanya Dhee iseng, karena sebenarnya disitu dah tertulis paket sampai setelah 6 hari perjalanan.
"Satu minggu dari sekarang itu sudah selambat-selambatnya kak, ada yang bisa kami bantu lagi kak" tanya mbak-mbak yang di JNE ramah
"Ga ada Mbak.. makasih ya Mbak, atas bantuanya" ucap Dhee menggeleng kemudian pamitan keluar dari ruko tersebut.Dhee pulang kerumah dengan perasaan lega, akhirnya paketan itu sudah terkirim. Dhee melewati rumah makan Padang, dia baru sadar kalau dari pagi belum makan. Dia membeli sebungkus nasi padang dengan lauk udang, dan dibawanya pulang. Dhee sangat jarang makan di warung, sebenarnya dia lebih suka masak sendiri tapi karena hari ini merasa sangat lelah, dan sudah sangat kelaparan akhirnya Dhee memutuskan untuk membeli saja. Sepanjang jalan masih terlihat genangan-genangan air hujan yang baru saja mengguyur kota itu dengan deras dan singkat. Sampai dirumah, sambil menikmati makanan yang baru saja dia beli Dhee membayangkan hari ini, hari yang dilaluinya dengan penuh semangat, pagi-pagi Dhee ikut Les Bahasa, kemudian langsung ke toko buku tuk beli buku keujanan dan langsung ke kantor pos telat 5 menit. "Huft.. semoga Ibu suka dengan buku bacaanya" batin Dhee sambil membayangkan kampung halamanya yang asri dan bertetangga dengan baik. Dhee berharap buku itu akan di baca keponakan-keponakanya, tetangga-tetangganya dan semua orang akan punya impianya sendiri-sendiri.
---
"Sayank...paketan yang buat Ibu dah dikirimn?" tanya Samu sore itu, belum juga Samu berganti pakaian sudah menanyakan paketan buku yang perencanaan nya sudah Dhee sampaikan ke Samu. Dhee cuma menoleh sebentar sambil mengacungkan ke dua jempolnya, kemudian meneruskan memasaknya. Setelah istirahat beberapa jam, Sabtu sore itu Dhee memutuskan untuk memasak, karena setiap Sabtu Samu pulang cepat.---
Tepat satu minggu setelah paket itu dikirimkan Dhee mencoba konfirmasi ke Ibunya, dan ternyata paket belum sampai. "Mungkin besok Senin" gumam Dhee. "kalau besok Senin lom sampai juga, baru deh konfirmasi ke JNE" fikir Dhee. Senin pagi Dhee langsung telfon JNE dan ya ampun susah sekali masuknya, setelah masuk di bilang bahwa paketan hari ini meluncur ke Trenggalek, sampai di Surabaya dari hari Selasa minggu lalu. "Mungkin ntar sore baru sampek tu paket" batin Dhee. Selasa pagi Dhee konfirmasi lagi ke Ibunya dan ternyata paket belum datang. Dhee sudah sedikit emosi, dia kembali telfon JNE, disuruh bikin laporan dan lain sebagainya. Dhee ikutin semua prosedur dan berharap paket itu cepat sampai ke tangan Ibunda tercinta. Namun hari berikutnya lagi-lagi paket belum sampai. Dhee mencoba contact JNE lewat e-mail, ada tanggapan walaupun tanggapan standart sudah membuat Dhee sedikit lega. "Mbak.. tolong kalau mang paketnya tidak bisa terkirim, balikin ke saya, saya akan kirim lewat yang lain, saya sudah capek mbak menunggu, soalnya tiap di telfon besok -besok terus, bilang yang pasti kapan paketan itu sampai" begitulah Dhee menulis e-mail atau berbicara langsung ke Customer Service nya JNE. Walaupun merasa kesal Dhee konfirmasi ke JNE, begitu seterusnya sampai Dhee sudah lelah untuk Complain, Dhee lelah konfirmasi,.. Hari ke-17 Dhee meratap ke Allah "Ya.. Allah, Dhee ga tahu harus usaha apa lagi tuk paket itu akhirnya sampai ke tangan Ibu, Dhee dah capek ya Allah". Hp dhee berdering. terpampang pada layar nomer yang tak dikenalin Contact Hp 021... "Nomer lokal" batin Dhee, dengan malas dia angkat telfon dan "hallo...". "iya pak.." "terimaksih". begitulah kiranya Dhee menimpali kata orang yang barusan menelfonya. "Alhamdilillah, terimkasih ya Allah, mang percuma mengeluh ke orang, andai saja kemarin-kemarin ku langsung minta ke Allah, ku kan tidak kecewa... karena Allah selalu tau apa yang aku butuhkan...Sekali lagi terimakasih ya Allah.. Paketan itu akhirnya sampai juga ke tangan Ibu" Ucap Dhee lirih sambil terus menerawang.
---
"Dhee ga akan paketin lagi lewat JNE, bikin Dhee marah-marah, emosi, dan capek hati". kata Dhee ke Samu saat sore itu, tepat hari ke-17 sore, saat Samu menanyakan tentang paketan untuk Ibu. Samu hanya tersenyum "Gak papa, buat pengalaman, pengalaman tu mahal lo Yank... harus ditebus dengan kesabaran yang panjang" katanya kalem. Aku memandangnya dengan malas, "Udah ah... manyun nya, tambah jelek tu" kata Samu sambil mengacak-ngacak rambutku. "Apaan sih" kataku pura-pura marah sambil cubit pinggang Samu. "Ampun Sayank.." kata Samu cengar-cengir menahan sakit. Aku tertawa sambil berlalu tuk siapin makan sore kita hari itu. Rasa kesal 17 hari menunggu itu menguap tak bersisa, yang ada sekarang harapan tuk segera bisa mengirimkan paket lagi ke Ibu. pi tetap tekad Dhee dah bulat, Dhee cuma akan paketin lewat kantor Pos.
NB : Suamiku.. terimakasih atas kelapangan hatinya dan pengertianya. Nanti kita diskusikan paket buat bulan depan ya!. LOVE u so much.....