Selasa, 10 April 2012

Kota Mangkok

Samu sedang asyik membolak balik koran hari ini diberanda belakang rumah kecilnya sambil menikmati secangkir teh hangat. Dhee menghampiri Samu dengan sepiring pisang goreng panas yang baru saja dia goreng. Dhee duduk di samping Samu, Senja sore itu begitu sangat mempesona, angin sesekali mempermainkan rambut Dhee, sampai dia harus berulang-ulang kali menyibakkan rambutnya.
"Sayank.... apa rencanamu tuk hari tua kita?" tanya Dhee menatap mesra suaminya.
Samu menghentikan membolak-balik koran itu, dia menarik nafas panjang "Halaman yang luas, alam yang bersahabat, tetangga yang ramah, ibadah yang sempurna" jawab Samu sambil menerawang jauh menatap mega jingga yang tersumbal di langit biru. Dhee diam menunggu kalimat lanjutan dari Samu. Tapi yang ditunggu malah asyik menyerutup teh hangatnya sedikit demi sedikit, berkali-kali.
"Pulang kan Yank?" tanya Dhee kemudian. Samu langsung menengok ke Dhee sambil tersenyum. Membetulkan letak poni Dhee yang berantakan di terpa angin, "Pasti Sayank.." ucapnya optimis.
"Setelah semuanya siap dan urusan di sini beres, kita akan bergegas segera pulang" kata Samu sambil mencomot pisang goreng dan melahapnya. "Tempat itu akan menjadi tempat terindah tuk habiskan masa tua kita, melihat anak-anak mandiri, di sana kita melihat dunia pertama kali dan kita juga akan melihatnya tuk yang terakhir kali" lanjut Samu.
Dhee terdiam, terpesona dengan rencana Samu. Karena jarang sekali Samu menyampaikan apa yang diinginkanya sebelum semuanya jelas, dan tinggal penyelesaian akhir. Dhee teringat empat tahun silam saat dia terlibat obrolan dengan Dosen Astronominya di satu-satunya Universitas Negeri di Solo.
 "Dhee dari Trenggalek ya?" tanya dosen yang baru menempuh S3 nya di Amerika itu.
"Betul pak, kota kecil di Jawa Timur, deket Ponorogo" Terang Dhee menjelaskan letak geografisnya tanpa diminta, memang Dhee selalu antusias kalau ditanya tentang tanah kelahiranya itu. Hatinya selalu berdesir mendengar kota itu disebut, kota yang harus di zoom berkali-kali jika kita lihat peta indonesia. Harus zoom pulau Jawa, zoom lagi jawa Timur dan Zoom di bagian pojok bawah kiri, itulah Trenggalek. Kota yang akan selalu dirindukan oleh Dhee.
"Iya..ya..." kata P.Charly manggut-manggut, "Saya pernah lo ke sana" sambungnya.
"Iya pak?" tanya Dhee antusias, "di daerah mana pak?"
"Mana ya?" dosen itu tampaknya berfikir keras tentang sebuah nama desa yang pernah dia kunjungi.
"Tugu, Karangan, Prambon, Sumber Gedong, Gandu Sari, Prigi, Panggul,..." Dhee dengan tidak sabar menyebutkan beberapa kota yang berslogan BERTEMAN HATI itu, memancing ingatan sang dosen.
"Ya.. Panggul" kata Pak Charly dengan senyum Sumringah. "Bapak cari Marmer ke sana, marmer nya mang sangat berkualitas" lanjutnya, Dhee hanya senyum-senyum, sambil sesekali mengangguk bangga. " Tu marmer yang dari Trenggalek di ekspor juga kan?" tanya nya tiba-tiba sambil melihat ke arah Dhee yang masih cengar-cengir.
"Setau saya sih.. iya pak, kata Ayah saya Marmer dari Trenngalek tu jempolan banget" kata Dhee dengan cepat sambil mengacungkan dua jempol tanganya
Sang Dosen hanya tersenyum melihat tingkah Dhee, "Kota Mangkok" gumam Pak Charly walaupun sangat pelan Dhee jelas mendengar kata itu, julukan buat kota tercintanya  dari sang dosen. Dhee terdiam dengan tidak sabar berharap sang dosen menjelaskan kenapa kotanya dia sebut sebagai kota mangkok, karena sejauh ini Dhee tak berfikir sampai disitu, " Ya kota mangkok, bayangkan aja, Trenggalek tu dikelilingi oleh Gunung, Disetiap mata memandang, ke kiri, ke kanan, ke utara, selatan,. barat daya,. ke segala penjuru mata angin lah,... kita akan melihat gunung, coba deh bayangkan.." terang dosen Dhee yang sepertinya tahu apa yang sedang difikirkan Dhee.
"Iya juga ya..." kata Dhee lirih,dia senyum-senyum sambil mengangguk-angguk, ah..lihatlah betapa Dhee sangat bangga dilahirkan di kota kecil itu. Selama ini Dhee menjelaskan kota kecilnya dengan Marmernya, dengan pantai pasir putih nya, sawah nya, udara yang sangat segar, tapi belum dengan gunung yang mengelilinginya.
Pembicaraan Dhee dengan sang dosen ternyata mampu membuatnya melintasi ruang dan waktu saat dia masih kecil, kecil sekali, waktu itu Dhee mengaji Iqra' di TPQ Thoriqul Huda ( Taman Pendidikan Quran ). Sang Ustad lagi menerangkan terjadinya kiamat.
" Jika masa itu telah tiba kita seperti kapas yang berterbangan, matahari tepat satu jengkal di atas kepala kita, gunung-gunung bertabrakan satu sama lain" kata sang Ustad khidmat, Dhee dan teman-temanya menggidik mendengernya, mereka saling tatap dan saling mengucap janji tuk saling mengingatkan, padahal baru kemarin siang Dhee dan teman-teman berdiri di tengah sawah yang luas dan melihat ke segala arah yang ada hanya gunung. Segerombolan anak kecil itu dengan sangat PEDE mematenkan gunungnya masing-masing, saat itu Dhee memilih sebuah gunung yang berada di arah Barat, gunung yang menjulang Tinggi sekali dan masih nampak berwarna hijau, fikir Dhee dibalik gunung itu adalah Mekah, karena Dhee sholat menghadap ke Barat ke arah Kiblat. Itulah mengapa Dhee memilih gunung itu, itupun harus berebut dengan Nad, yang kekeh-sumekeh memilih gunung yang sama dengan Dhee. Namun Dhee berhasil memenangkan kepemilikan gunung tersebut dengan lomba lari dari tempat mereka berdiri samapi ke sungai yang membelah hamparan luas sawah tersebut. Walaupun dengan sedikit kesal Nad memilih gunung yang lain sebelum semua telah dimiliki oleh teman-teman kita yang lain.
Setelah terdiam sejenak, sambil mendengarkan sang ustadz memberikan ceramahnya Dhee berbisik ke Nad "Aku ntar mau ke Jakarta aja, kan jauh dari sini, pasti di sana aman karena ga ada gunung yang mengelilinginy"
"Masak sih Dhee? aku ikut ya?" respon Nad sambil berbisik pula. "Mang kamu dah pernah ke jakarta ya Dhee?" tanya Nad penuh selidik, Dhee hanya nyengir sambil membetulkan jilbabnya yang berantakan. Nad ikut nyengir karena dia tahu pasti Dhee belum pernah ke Jakarta.
"Dan dimanapun kalian bersembunyi kalian takkan selamat, hanya iman kalian lah yang akan membantu kalian, sungguh hari akhir itu semakin dekat, maka mari kita meniatkan segala apa yang kita lakukan sebagai ibadah, meluruskan hati kita dengan ikhlas, berdoa sebanyak-banyak nya semoga kita jadi hamba pilihan, hamba-hamba Allah yang beruntung. Amin" sang Ustadz menutup pelajaran nya di sore yang temaram ini.
"Amin.." ucap murid-murid mengaji itu serempak.
Malam itu  Dhee berfikir untuk sekolah dengan benar biar ilmunya bermanfaat, berfikir cara pergi ke Jakarta, dan yang pasti berfikir melewati gunung nya yang akan membawanya ke suatu tempat yang diinginkan semua umat muslim. "Dhee pengen pergi jauh" gumam Dhee di antara kantuk dan terjaganya.
 ---
 " Sayank tau ga, kalau kota kecil kita tu dijulukin kota mangkok?" tanya Dhee antusias, Samu menghentikan mengunyah pisah goreng, menoleh ke arah Dhee sambil menggeleng. Dhee dengan senang hati menjelaskan semua tentang kota kecil itu, kota yang menyimpan sejuta kenangan dan harapan. Samu mendengar dengan seksama sambil sesekali tertawa terbahak melihat tingkah unik Dhee yang menceritakan respon teman-teman yang selalu tidak tahu letak Trenggalek, yang bilang namanya aneh, susah dilafalkan, apa hubunganya dengan Trenggiling. Dan masih banyak lagi respon-respon unik dari para teman-teman yang lain, namun apapun tanggapan temannya, Dhee akan tetap bangga dengan Trenggalek.


NB : Sekarang di Trenggalek lagi musim Panen. Pasti semua lagi sibuk....

Selasa, 03 April 2012

Jodoh ku


Fahri : "Sebelum aku kesini, sebenarnya ada 2 hal yang bikin aku kagum sama Mesir. Yaitu Al Azhar dan Sungai Nil, karena tanpa sungai Nil, tidak ada Mesir dan tidak ada AL Azhar.
Maria : "Aku juga suka sungai Nil, kalau tidak ada sungai Nil, pasti tidak ada Mesir, tidak ada peradaban, yang ada hanya gurun pasir"... "Kamu percaya pada jodoh, Fahri?"
Fahri : "Ya, setiap orang memiliki…."
Maria : "... jodohnya masing-masing. Itu yang sering kamu bilang".... "Aku rasa sungai Nil dan Mesir itu jodoh, senang ya kalau kita bisa bertemu dengan jodoh yang diberikan Tuhan dari langit"
Fahri : "Bukan dari langit, Maria, tapi dari hati, dekat sekali"
Dialog Fahri dengan Maria di Tepi sungai Nil dalam Film AYAT-AYAT CINTA


"Jodohku maunya ku dirimu
Hingga mati ku ingin bersamamu, ini ikrarku
Jodohku maunya ku dirimu
Satu cinta hingga ajal memisah
Aku dan kamu satu saling mencinta"
By : Anang-Ashanty -Jodohku-
"Setiap nama tempat, nama kejadian, atau nama seseorang akan terlupa seiring dengan berjalanya waktu. tapi tidak dengan rasa,.. sedih, bahagia, cinta. semua akan jelas tersimpan dalam lubuk hati terdalam" beberapa kata diambil dari Film Love, tapi untuk kalimat lengkapnya Dhee lupa. hehehe

Suatu ketika Dhee ditanya oleh seorang temanya,
"Dhee bagaimana kamu yakin kalau dia orangnya" katanya penuh selidik,. Dhee menarik nafas panjang. "Sebenarnya kita akan yakin dia tu orang yang tepat jika kita tau bahwa tak ada lagi orang yang bisa mencintai kita melebihi dia"
Teman Dhee manggut-manggut kepala entah mengerti atau tidak, "Dan yang bisa terima kamu apa adanya?" tanyanya menimpali
"Enggak lah... gila apa, aku perlu diperbaiki kali.." kata Dhee cepat. "Aku dan Dia akan saling mengingatkan tuk berubah ke arah yang bih baik, -aku akan menerima segala kekurangan mu sayank...-. kalau ada cowok bilang itu padamu kau harus tinggalkan dia, karna Dia takan membuatmu lebih baik dari sekarang" kata Dhee menatap serius ke temanya tersebut.
"Iya juga ya Dhee..." kata Teman Dhee mengangguk-anggukan kepalanya kembali. "Trus bagaimana kita tahu kalau tak ada orang yang cinta ma kita melebihi dia?" tanyanya setelah terdiam sesaat.
"Survey pasar lah...." jawab Dhee enteng sambil tersenyum, Dhee melihat raut muka bingung di wajah temanya itu. kemudian Dhee melanjutkan cara pandangnya "Ya... itu bisa kita rasain kok dan hanya kita sendiri yang tahu kualitas cinta kita dan pasangan. Percaya deh... nek mang Dia orang yang tepat untuk kita, semua yang menuju ke arah itu bakal dimudahin ma Allah, bakal ada aja jalan nya, yang penting niat hati lurus untuk menyempurnakan separuh agama kita" Dhee terdiam sesaat.
"Sepertinya bakal panjang ni" batin temanya Dhee sambil cengar-cengir ga jelas.
"Walah..jadi ceramah"  kata Dhee tertawa seolah tau apa yang difikirkan temanya itu.
"Hahahahaaha.." mereka berdua terbahak, saling pandang, dan tertawa lagi. Diam menikmati hayalanya masing-masing.
"Dhee.. pernah terlintas ga sih, bakal nikah secepat ini, ma Dia pula" tanya teman Dhee tiba-tiba.
"Enggak" kata Dhee menggeleng. "Semua terjadi begitu saja, seperti air sungai yang menuju laut,yang penting tujuanya sama air-air disungai itu bakal searah mengalirnya, nek mang sudah satu tujuan masalah waktu ku kira kapan aja hayo.. lebih cepat lebih baik, kata mantan calon orang nomer satu di negara ini" kata Dhee semangat, persis seperti para politikus meneriakkan slogan mereka.
"Wah.. bakal seru kayak nya nek ada segelintir air sungai yang tujuanya ga ke laut" kembali mereka hanya terkekeh membayangkan nya. "Kapan ya Dhee giliranku?" tanya nya menerawang
"Segera... setelah kau siap" kata Dhee pendek.

P.S :  Samu telah mempesonaku tuk masuk ke dunia nya. Terimakasih ya sayank... telah mengubahku dalam banyak hal.