Rabu, 16 April 2014

Sebuah nama

Beberapa nama aku persiapkan untuknya.. untuknya yang selalu ku rindu...

"Sam... El Mayka, bukankah nama yang indah?" tanyaku pada Samu di suatu sore yang indah.
"Ku rasa begitu" sambut Sam.. Sam memang tak terlalu menanggapi ocehan-ocehan ku.. karena entah untuk yang ke berapa kali aku menanyakan hal yang sama berulang kali dengan nama yang berbeda.. Dhisa, Aisya, El Samsy, Kirana... hmhmhm.. nama yang semuanya Indah.. nama yang aku persiapkan untuknya..

Kali ini hatiku kembali bergetar saat membaca buku dengan tokoh Kirana.. aku tersenyum sendiri, membayangkannya hadir dalam hari-hari ku.. merajuk, menangis, memeluk, berlari kecil, dan jatuh..

"Aku ikhlas dengan ketetapan Tuhanku padaku" jawabku sambil tersenyum saat temaku menanyakan kehadirannya dalam keluarga kecil kami beberapa waktu yang lalu. Kelihatannya dia jadi ga enak hati dengan pernyataanku... mungkin karena aku membawa nama Tuhan.. "Maafkan aku Tuhan.." kataku berbisik dalam hati kecil ku

Hari ini 4 maret 2014 tepat satu bulan setelah terakhir aku menstruasi, optimisme itu selalu ada dalam diriku apalagi hasil tes laboratorium Samu mengalami kemajuan yang bagus. Dalam tiap langkahku aku selalu memantapkan hati.. jika ada keraguan aku selalu bilang pada hatiku "Tuhan ga perlu 20juta, satu pun cukup untuk membuahi sel telur dan ingat suamimu punya 6juta di tiap mili nya, jadi sangat bagi Tuhan, jika dia mau mempercayakannya padamu" itulah yang menjadi penguatku.

Tiga hari setelah tanggal 4 maret aku tidak merasakan apapun yang dirasakan saat mau menstruasi, "harapan itu ada" batinku lirih. aku terserang batuk yang berkepanjangan karena aku tidak mau minum obat, aku takut obat yang aku minum akan membuat sesuatu yang tidak baik, begitu fikirku.

lima hari setelah tanggal 4 maret akhirnya menstruasi itu datang....
Bulan-bulan sebelumnya pasti aku akan langsung menangis di kamar mandi saat mendapati diriku menstruasi di hari pertama. Tapi itu dulu... saat tahun pertama penantianku.. Tahun berikutnya aku marah, muak dengan kata sabar dan ikhlas.. Tahun selanjutnya aku capek dengan tangisan dan amarah.. aku diam.. aku tak lakukan apapun..... dan ini adalah Tahun terbaikku, bukan karena aku mendapatkannya, tapi karena aku sedang belajar ikhlas dan sabar.. karena sedang belajar menjadi seseorang yang tangguh, seesorang yang tidak emnangis karena urusan-urusan sepela.. seseorang yang tidak marah karena hal-hal yang tidak diketahui penyebabnya..

aku sangat bersyukur ada Samu yang selalu membantuku bangkit dari keterpurukan, ada Bapak dan Ibu ku yang selalu ingatkan ku atas kebesaran Tuhan, dan semua orang yang menyayangiku yang mengatakan betapa aku sangat beruntung..

Kirana.. El mayka, Dhisa.. siapapun nama yang akan tersemat dalam dirimu.. saat engkau belum adapun aku sudah mendoakanmu di sana..