Sabtu, 07 Juli 2012

2012-2013

07072012

Jam 00.00 WIB dia masih terjaga, masih terngiang jelas saat Sang Papa membisikkan bahwa angka tujuh adalah angka yang istimewa, masih terekam jelas saat Sang Papa membagakanya dalam setiap kesempatan, menghubungkan keajaiban-keajaiban kecil dengan angka tujuh yang membuat Dhee merasa istimewa dilahirkan tanggal 07071987, ada tiga angka tujuh yang ada pada tanggal,bulan, dan tahun kelahiranya.
Seperempat abad yang lalu Dhee dipaksa untuk melihat dunia ini, dengan terpaksa dia memulai harinya di hari Selasa, setelah itu Dhee terbiasa dengan kehidupan ini. Dhee merasa sangat istimewa dengan hal-hal kecil, walaupun itu kebetulan, walaupun itu bukan untuknya, namun dia akan merasa sangat sedih dengan hal sekecil apapun yang bisa melukai orang lain.
Diusianya yang seperempat abad Dhee merasa sangat istimewa karena bisa merayakan nya sendiri dalam kegelapan malam ditempat yang asing dan tak seorangpun yang peduli. Hal itu sama sekali tak mengurangi sedikitpun kebahagiaan yang Dhee rasakan. karena di ujung sana masih ada Samu yang setia menunggu jam 00.00 WIB dan mengucapkan "Sayank.. I am really-really love U.. I am really-really misz U, semoga Bunda di sayank Allah, dan selalu menjadi malaikat di keluarga kecil kita, selalu mencintai Ayah dan menajdi penerang langkah Ayah" Dhee tak bisa berkata banyak, selain mengucap syukur kepada Allah yang telah mengirimkan penjaga buat nya sesempurna Samu.
Dua puluh empat tahun telah Dhee jalani hari tanpa kendala yang berarti, Dhee dilahirkan dari keluarga yang hebat, keluarga yang selalu bahagia dengan kesederhanaanya, keluarga yang membuatnya tak akan bisa melihat orang lain sedih dan terluka, keluarga yang mengajarinya selalu berbagi, dan keluarga yang menanamkan mimpi-mimpi indah dalam benda lunak di bawah tempurung kepalanya.

--
Dan hari ini Dhee mendapatkan kesempatan tuk mendapatkan motivasi dari seorang motivator dari www.art2morrow.co.id yang diselenggarakan oleh sekolahnya di Lembang bandung. Jam 05.00 WIB dia mengawali harinya dengan pergi ke kawah Damas, sweater yang ia gunakan tak dapat menahan udara dingin, udara itu menusuk kedalam sela-sela pori nya yang kecil,. Dingin namun kaki tetap melangkah, tuk bersahabat dengan alam, tuk menghirup udara bersih sebanyak-banyak nya, dengan tujuan menguras isi paru-paru nya yang sudah banyak terkontaminasi dengan udara yang tercemar.

--
Saat di aula gedung itu, sang motivator Bpk.Effendy menyampaikan banyak hal namun yang paling istimewa adalah saat sang motivator mengajak audiance tuk menuliskan impiannya masing-masing dalam sebuah kartu fight yang beliau bagikan. and this Dhee fight
For my Self : Aku guru Hebat, murid-muridku selalu merindukanku. Aku rekan kerja kooperatif, semua guru nyaman dekat dengan ku. Takkan ada yang bisa menggantikanku di sekolah itu. 2013 anak-anak juara lomba math dan sains. Aku guru berdedikasi. Kebanggan keluarga dan orang tua. Inspirasi sahabat dan adek-adek.
 Still for my self : 2014 2014 2014 Matematika dan Sains mudah.
2022 2022 2022 aku mempunyai sekolah setingkat sekolah ku sekarang di TRENGGALEK.
 For my Family : kebahagiaan mereka segalanya buatku. Persiapkan dana hari tua untuk ke tiga orang tua ku. Persiapkan dana buat dede kecil yang datang tahun ini. Income satu bulan 10 jta.
Dhee sama sekali tidak tahu bagaimana caranya mencapai semua yang dia impikan, namun itulah impian Dhee. Dia selalu membayangkan dia punya rumah kecil dengan aliran sungai gemercik dibelakangnya, ayunan yang ada di pohon besar, rumah pohon, tempat bermain basket, itulah rumah impian Dhee.
Bagaimana dengan sekolah? dia selalu bermimpi tuk punya sebuah sekolah di kampungnya, sekolah swasta yang hebat, di dalamnya ada satu pelajaran mendongeng dan dia mau Sang Papa lah yang akan menjadi pendongeng nya.. Sang Papa lah yang akan menanamkan mimpi-mimpi pada generasi bangsa di desanya, sehingga desanya akan menjadi desa yang hebat.
Keliling Eropa adalah salah satu impian Dhee, namun sebelum semua itu Dhee  mau berkeliling Indonesia dengan Suami dan Anak-anaknya kelak. Membangun nasionalisme sang Anak.
That's a Dhee dream's... tanpa tahu bagaimana mewujudkanya namun Dhee yakin untuk semua ini. Kata sang motivator "KALAU HATI TULUS, NIAT TULUS, ALAM SEMESTA MENDUKUNG". Seperti kehidupan yang telah Dhee alami selama 24 tahun ini. Bagaimana seorang anak desa mempunyai mimpi yang tinggi. "MILIKI CITA-CITA YANG TINGGI, KALAUPUN KAU JATUH KAU AKAN TERJATUH DI BINTANG-BINTANG" sebuah kalimat dari sang proklamator, Bung Karno.Betapa sangat indah kalimat itu terdengar selalu memotivasi Dhee untuk mengembangkan dirinya, untuk menjadi kebanggaan orang tua.
Dan sekarang di usianya yang ke dua puluh lima Dhee telah mempunyai rumah di Tangerang, rumah yang sangat sederhana, tanpa rumah pohon, tanpa lapangan basket, tanpa pohon besar, tanpa sungai yang gemericik. Namun itu adalah rumah yang nyaman, terhampar luas rumput yang hijau, udara tersirkulasi dengan baik, tetangga yang bersahabat, dan lingkungan yang sehat. Sebuah mobil Picanto Titanium Silver yang imut, lucu, dan nyaman. Walaupun sampai saat ini Dhee belum berani mengemudikanya. itu pencapaian yang waktu itu Dhee hanya bisa bermimpi tuk semua itu. Dan semua itu berkat Samu yang tak pernah lelah berjuang untuk keluarga.

^_^

NB : Thanks to my new friend di SD, my hubby Samu, sekolah yang memberi kesempatan ku satahun ke depan tuk belajar lebih banyak.

 

Sabtu, 09 Juni 2012

Tahi Lalat

Kembali Dhee mematut-matut diri di depan kaca, entah yang keberapa kali nya dalam sore ini dia memandangi dirinya dalam cermin itu, lebih spesifiknya dia memperhatikan tahi lalatnya yang ada dihidung nya. "Bentuknya segitiga" gumam Dhee. Dah seminggu ini tiba-tiba tahi lalatnya itu mengeras dan gatal. Dhee jadi takut tapi juga tak berani ke dokter, dia takut dokter akan menyarankan untuk mengambil tahi lalatnya. Dia tutup tahi lalat itu dengan jari telunjuknya kemudian melihat ke cermin dan tersenyum-senyum sendiri. "Kayaknya ga terlalu buruk jika aku tak bertahi lalat di hidung se gede ini" gumamnya kembali. Dhee menarik nafas panjang, kemudian dia rebahkan badanya di kasur.
---

Pulang kerja Samu mendapati istrinya sedang malas-malasan dan tak bersemangat, Samu langsung menghampiri dan mencium keningnya.
"Sayank kenapa?.. tumben ga bersemangat" tanya Samu dengan penuh cinta, Dhee cuma menatap Samu dan menunjuk tahi lalatnya. Samu menggreyitkan kening dan mencoba memeriksanya lebih dekat. "Kita ke dokter ya Sayank.." katanya kemudian, tanpa menunggu jawaban Dhee, Samu bangkit dari duduknya dan bersiap tuk mandi.
Akhirnya sore itu Dhee pergi ke dokter Spesialis kulit ditemani Samu.
"Selamat sore ibu..." sambut sang perawat ramah. "Ada keluhan apa ni?" tanyanya sambil mempersilahkan Dhee dan Samu duduk. 
"Tahi lalat ni mbak, tambah besar, bentuknya ga rata, trus seminggu ini mengeras" kata Dhee menjelaskan.
"O.. iya..ya..." kata perawat itu sambil mencatat-catat apa yang dikatakan Dhee, "Langsung aja diperiksa dokter ya bu.." kata nya sambil langsung menyilahkan Dhee masuk ke ruangan dokter.
"Selamat sore,dok.." sapa Dhee sambil tersenyum .
"Selamat sore juga..." sambut sang dokter, "di periksa ya.."katanya mempersilahkan Dhee duduk di tempat pemeriksaan. "Ini sudah lama mengerasnya?"
"Baru seminggu dok... gak papa kan dok?" tanya Dhee mulai kwatir.
"Ini harus di angkat bu, soale bentuknya ga rata begini, menghitam" kata sang dokter setelah memeriksa tahi lalat Dhee. "Kalau setuju mau operasi datang lagi hari Sabtu ya..."
"Iya dok..." kata Dhee. Setelah  bertanya beberapa hal dan meminta persetujuan Samu, Dhee pamit dan membuat janji dengan dokter untuk operasi kecil besok Sabtu pagi.
Samu melihat raut muka sedih di wajah Dhee, mereka tak berkata banyak, Samu hanya menggenggam erat tangan Dhee dan menatapnya "Semua akan baik-baik saja Sayank.. ga ada yang perlu di kwatirkan" begitulah kira nya arti tatapan Samu.
"Apa kau akan tetap mencintaiku?" tanya Dhee di tengah perjalanan pulang dengan muka serius. Samu hanya menatapnya sekilas kemudian terkekeh, menahan tawa. Dhee akhirnya ikut tersenyum, dia menyadari pertanyaan bodohnya itu. "Abis.. nanti kalau dioperasi ga ada tahi lalat nya lagi, nanti Dhee akan jadi orang yang berbeda, kayak bukan Dhee" kata Dhee menerawang. Samu hanya tertawa melihat tingkah Dhee.
---
"Buim....Bubur.... aku mo operasi tahi lalat ni,... kata dokternya suruh angkat aja, padahal kan banyak banget kenangan terindah dari tahi lalat ku ya bu... huhuhu"
Dhee menuliskan pesan singkat ke sahabatnya Imunk dan Indah, tak membutuhkan waktu lama untuk Imunk membalas sms Dhee.
"Walah... bahaya ya Dhee..?Karena tahi lalat itu nilai Kapita Selekta Fisika 3 mu dapat B Dhee... hahahaha"
Secepat perambatan cahaya memori Dhee memutar kembali saat, dia dan dua sahabatnya Imunk dan Indah duduk di bangku kuliah.
--
Siang itu kuliah Kapita Seleksa Fisika 2 yang di ampu oleh Bapak Widha. Seperti biasa Dhee, Indah, dan Imunk duduk dibarisan terdepan. Siang itu kuliah berjalan sepertri biasa, dengan penuh jenaka Pak.Widha membawakan mata kuliah tersebut. Bukan Dhee namanya kalau diam, Dhee menyenggol-nyenggol Imunk, setelah Imunk melihat ke arah Dhee, Dhee menunjuk ke Indah. Indah lagi asyik mengkorek-korek komedonya dengan tutup bolpoint, tu memang kebiasaan Indah, walaupun mereka melihatnya tiap hari namun bagi Dhee dan Imunk pemandangan itu tetap lucu. Dhee dan Imunk mulai cekikikan. Indah yang merasa ditertawakan menyadari kebiasaan buruknya itu dan menghentikanya. "Abis enak sih.. krenyes..krenyes.." katanya berbisik sambil tertawa tertahan. Setelah itu ada saja yang mereka diskusikan, pastinya di luar mata kuliah yang sedang dijelaskan. Pelajaran itu akhirnya selesai juga, kelas berubah menjadi riuh, banyak yang langsung berdiri dan meliuk-liuk kan badanya, pegal karena dua jam duduk di bangku kuliah yang terbuat dari kayu itu.
"Eh.. kalian tu ya daritadi rame sendiri" kata sang dosen menunjuk ketiga sekawan itu, dan pasti Dhee menjadi tersangka utama. Dhee cuma nyengir, "Gara-gara tahi lalat yang gede di hidung itu, makanya ga isa diam" sambung sang dosen. Satu kelas tertawa serentak menoleh ke arah Dhee, yang membuat mukanya merah padam karena malu.
"Bapak juga punya tahi lalat gede di alis" gumam Dhee sambil bersungut-sungut, suaranya sangat pelan sebenarnya, tapi ajaib sang dosen seperti punya indera ke enam yang mampu menagkap frekuensi suara Dhee yang sangat rendah.
"O iya.. aku juga punya tahi lalat di alis ya..." kata sang dosen sambil terbahak, Dhee langsung menunduk takut, sedangkan Imunk dan Indah tertawa bahagia sekali.
Karena moment tahi lalat itu sang dosen jadi tahu nama Dhee, saat semester 7 Dhee memutuskan mengikuti Program Pendampingan SMK ke Maluku Utara selama  tiga bulan, otomatis dia tidak bisa mengikuti kuliah tatap muka. Padahal masih ada beberapa mata kuliah yang harus di tempuh, salah satunya Kapita Selekta Fisika 3 yang di ampu oleh Pak Widha dan Pak Sarwanto. Setelah kembali dari Maluku Utara di sibuk sekali mengejar ketinggalan kuliahnya, meminta ujian ke dosen-dosen, untung ada Indah dan Imunk yang selalu ada buat Dhee,selalu menjawab apapun yang di tanyakan Dhee tentang Fisika Inti dan Fisika Modern ( mata kuliah yang di tempuh saat itu ). Namun mata kuliah Kapita selekta Fisika menuntut daftar hadir karena pembelajaran di lihat dari proses bukan hasil akhir.
"Ah.. alamat ga isa wisuda tahun ini ni" keluh Dhee ke Indah dan Imunk
"Optimis.. pasti ada jalan" kata Indah menyemangati Dhee
"Iya lah Dhee tenang aja.." sambung Imunk. Dhee cuma nyengir, " yang penting dah berusaha semaksimal mungkin, apapun hasilnya, sudah bukan tugas kau lagi. Cuma tinggal berdoa dan senang-senang sobat.." katanya menepuk pundak Dhee. Dhee beuntung sekali mempunyai sahabat sebaik dan setulus Indah dan Imunk. Namun kegalauan masih menyelimuti hatinya, Dhee memaksakan tersenyum dan terlihat sangat aneh.
---

Nilai mata kuliah yang ditempuh semester 7 sudah terpampang di papan pengumuman, dengan tergesa-gesa Dhee menuju ke kampus itupun setelah di beri tahu Indah dan Imunk, di tangga kampus dia bertemu dengan Indah dan Imunk yang sudah melihat nilai mereka dan terlihat sangat jelas bahwa mereka puas.
"How about me?" tanya Dhee dengan nafas ngos-ngos an
"Liat aja sendiri.." kata Indah mereka hanya tersenyum sambil berlalu.
 "Kita tunggu di kantin ya Dhee" tambah Imunk menepuk pundak Dhee
"Aduh... liat tu bejubel gitu, kalian ga ngelirikin?" tanya Dhee lagi, tanpa menunggu jawaban dari Imunk dan Indah Dhee menghampiri teman-teman nya yang lain, dia ngerasa ada yang ga beres sehingga dua sahabatnya tidak mau memberi tahu nilainya, mungkin dia ga lulus. Dhee menarik nafas panjang dan menyiapkan kemungkinan terburuk.
"Ah...mana sih ni namaku?" kata Dhee ga sabar setelah dia sampai di depan papan pengumuman palagi melirik hasil ujian masih bnyak temen-temen yang dapat C dan D. Dhee makin berdebar-debar ga karuan, ketangkasan nya membaca serasa pudar begitu saja, saat itu dia benar-benar kesulitan mencari namanya. Dia urut dari atas ke bawah, dari bawah ke atas, dan kembali lagi dari atas ke bawah. Saat dia menemukan namanya dia telusuri dengan jarinya ke arah nilai-nilai yang ia dapatkan. Peluh mulai berjatuhan saat itu, Dhee terdesak ke depan... tapi Dhee harus bertahan untuk mengetahui nilainya... A A B begitulah deretan nilai itu terbaca oleh Dhee. Dhee kembali menelusuri nama nya takut salah.
"Yes.. lulus semua" kata Dhee spontan dan langsung keluar dari kerumunan teman-temanya. Teman-temnaya pada melihat Dhee dengan tatapan beragam, ada yang ikut senang, ada yang menepuk-nepuk pundak Dhee, tapi banyak juga yang sinis.
"Kok bisa sih Dhee kamu lulus semua kamu kan ga ikut kuliah tiga bulan" kata salah satu teman Dhee menghampiri Dhee, dia tidak lulus dalam mata kuliah Fisika Inti.
"Kan Dhee pintar bisa jawab semua soal" kata Dhee innocent sambil berlalu meninggalkan temanya yang terbengong-bengong.
Dhee lari jingkrak-jingkrak menghampiri imunk dan indah yang menunggunya di kantin. "I am lucky girl" kata Dhee bersemangat. " I know what do you think" kata Dhee ke Indah ma Imunk. "aku memang beruntung, mkasih banyak ya my best friend.." kata Dhee sambil memeluk teman-temanya itu. Imunk dan Indah membiarkan temanya meluapkan kegembiraanya
"Berarti P.Widha kasih nilai kamu A ya Dhee?" tanya Indah
"Kemungkinan begitu karena kmarin kita jelas-jelas tahu P.Sarwanto kasih nilai aku C" kata Dhee datar
"Aku bisa wisuda bareng ma kalian" kata Dhee berharap
---

"Karena tahi lalat itu, dimarahin Pak Dewanto pas dubbing-in orang lewat, pas di tangga kampus lantai 3.. hahahaha" 
SMS dari Indah membuyarkan lamunan Dhee tentang kuliahnya namun menyeret nya ke ruang waktu yang berbeda namun bangun ruang yang sama. Lantai 3 Gedung D FKIP UNS. Menjelang jam makan siang Dhee, Indah, dan Imunk sudah memasuki semester 8, mereka sudah harus skripsi dan konsultasi ke dosean. Hal yang paling menjenuhkan adalah menunggu.
Masing-masing dari mereka mendapatkan pembimbing yang berbeda namun kali ini mereka senasib sang pembimbing tidak ada satupun yang diruangan.
"Bosen ga?" tanya Dhee ke Imunk dan Indah
"Banget" kata Imunk sambil menghela nafas
"Dubbing in orang-orang lewat yuk, seru ni kyaknya" kata Indah, Indah mang yang paling semangat dan mempunyai segudang ide. Dhee dan Imunk langsung mengiyakan.
Terlihat ada seorang mahasiswa yang tampangnya sudah semester 12 datang ke kampus bertemu dengan adik tingkatnya.
"Assalamualaikum.. ukhti kmana aja?" kata Dhee mengawali keisengan mereka
"Waalaikum salam, iya ni ukhti keenakan ngajar di sekolah" sambut Imunk ketika mahasiswa semester 12 mulai terlihat bicara
 "Gemukan ya sekarang" kata Dhee lagi saat melihat sang adek kelas memegang kakak kelas
Dan setelah itu mereka berlalu berdua dan ngobrol bnyak... Dhee, Imunk, dan Indah ketawa-tawa karena tak bisa mengikuti lagi gerakan mimik mereka. begitu seterusnya mereka bertiga dubbing in banyak orang, jika itu ada laki-laki mereka menirukan suara laki-laki. Sampai ketika P.Dewanto sang dosen mereka lewat di depan mereka.
"Eh.. Pak De tu" kata Dhee bersemangat karena mang tu adalah salah satu dosen muda dan ganteng di tempatnya kuliah
"Dubbing-in yuk.." ajak imunk. Mereka memulai aksi mereka saat itu Pak De sedang ngobrol dengan salah satu mahasisa semester atas, mungkin anak bimbinganya. setelah berlalu Pak De berjalan ke arah mereka dengan muka sok manis dan tak bersalah mereka mengangguk dengan penuh hormat lalu tertawa terbahak setelah sang dosen berlalu.
 Mereka saling pandang, dan saling tahu kalau sudah sama-sama bosan.
"Kantin yuk..." ajak Dhee, Dhee tidak tahu kalau petaka akan segera menghampirinya. Indah dan Imunk mengikuti Dhee, Dhee turun tangga, mereka bertemu dengan Pak Dewanto lagi, kemudian ngerasa ada yang ketinggalan Dhee naik lagi, tapi Dhee ngerasa semua baik-baik saja dia turun berbalik arah dan berpapasan dengan Pak De.
 "Huft... bingung ya?"tanya Pak De ke Dhee, "pegangin tu temanya biar ga jatuh" sambung nya ke Indah dan Imunk. Kita hanya saling pandang dan nyengir. "Abis keberatan tahi lalat sih, makanya ga isa diam" katanya melanjutkan
"Hahahhaha" Indah dan Imunk tertawa bahgia, sedangkan Dhee cuma bisa bengong dan menelan ludah, sedangkan Pak Dewanto berlalu begitu saja tanpa merasa bersalah. Sampai di kantin bawah Indah dan Imunk tidak bisa menahan tawanya
"Kena lagi aku.. huft" kata Dhee nyengir
---

Semua itu akan menjadi kenangan terindah buat Dhee, dan dia tidak mungkin lagi menikmati moment-moment spesial itu. Tidak akan ada lagi cerita tentang tahi lalat itu.


NB : Terimksih buat semua orang yang sayank ma Dhee dan terima Dhee apa adanya senatural mungkin suka. Love u All.



Selasa, 10 April 2012

Kota Mangkok

Samu sedang asyik membolak balik koran hari ini diberanda belakang rumah kecilnya sambil menikmati secangkir teh hangat. Dhee menghampiri Samu dengan sepiring pisang goreng panas yang baru saja dia goreng. Dhee duduk di samping Samu, Senja sore itu begitu sangat mempesona, angin sesekali mempermainkan rambut Dhee, sampai dia harus berulang-ulang kali menyibakkan rambutnya.
"Sayank.... apa rencanamu tuk hari tua kita?" tanya Dhee menatap mesra suaminya.
Samu menghentikan membolak-balik koran itu, dia menarik nafas panjang "Halaman yang luas, alam yang bersahabat, tetangga yang ramah, ibadah yang sempurna" jawab Samu sambil menerawang jauh menatap mega jingga yang tersumbal di langit biru. Dhee diam menunggu kalimat lanjutan dari Samu. Tapi yang ditunggu malah asyik menyerutup teh hangatnya sedikit demi sedikit, berkali-kali.
"Pulang kan Yank?" tanya Dhee kemudian. Samu langsung menengok ke Dhee sambil tersenyum. Membetulkan letak poni Dhee yang berantakan di terpa angin, "Pasti Sayank.." ucapnya optimis.
"Setelah semuanya siap dan urusan di sini beres, kita akan bergegas segera pulang" kata Samu sambil mencomot pisang goreng dan melahapnya. "Tempat itu akan menjadi tempat terindah tuk habiskan masa tua kita, melihat anak-anak mandiri, di sana kita melihat dunia pertama kali dan kita juga akan melihatnya tuk yang terakhir kali" lanjut Samu.
Dhee terdiam, terpesona dengan rencana Samu. Karena jarang sekali Samu menyampaikan apa yang diinginkanya sebelum semuanya jelas, dan tinggal penyelesaian akhir. Dhee teringat empat tahun silam saat dia terlibat obrolan dengan Dosen Astronominya di satu-satunya Universitas Negeri di Solo.
 "Dhee dari Trenggalek ya?" tanya dosen yang baru menempuh S3 nya di Amerika itu.
"Betul pak, kota kecil di Jawa Timur, deket Ponorogo" Terang Dhee menjelaskan letak geografisnya tanpa diminta, memang Dhee selalu antusias kalau ditanya tentang tanah kelahiranya itu. Hatinya selalu berdesir mendengar kota itu disebut, kota yang harus di zoom berkali-kali jika kita lihat peta indonesia. Harus zoom pulau Jawa, zoom lagi jawa Timur dan Zoom di bagian pojok bawah kiri, itulah Trenggalek. Kota yang akan selalu dirindukan oleh Dhee.
"Iya..ya..." kata P.Charly manggut-manggut, "Saya pernah lo ke sana" sambungnya.
"Iya pak?" tanya Dhee antusias, "di daerah mana pak?"
"Mana ya?" dosen itu tampaknya berfikir keras tentang sebuah nama desa yang pernah dia kunjungi.
"Tugu, Karangan, Prambon, Sumber Gedong, Gandu Sari, Prigi, Panggul,..." Dhee dengan tidak sabar menyebutkan beberapa kota yang berslogan BERTEMAN HATI itu, memancing ingatan sang dosen.
"Ya.. Panggul" kata Pak Charly dengan senyum Sumringah. "Bapak cari Marmer ke sana, marmer nya mang sangat berkualitas" lanjutnya, Dhee hanya senyum-senyum, sambil sesekali mengangguk bangga. " Tu marmer yang dari Trenggalek di ekspor juga kan?" tanya nya tiba-tiba sambil melihat ke arah Dhee yang masih cengar-cengir.
"Setau saya sih.. iya pak, kata Ayah saya Marmer dari Trenngalek tu jempolan banget" kata Dhee dengan cepat sambil mengacungkan dua jempol tanganya
Sang Dosen hanya tersenyum melihat tingkah Dhee, "Kota Mangkok" gumam Pak Charly walaupun sangat pelan Dhee jelas mendengar kata itu, julukan buat kota tercintanya  dari sang dosen. Dhee terdiam dengan tidak sabar berharap sang dosen menjelaskan kenapa kotanya dia sebut sebagai kota mangkok, karena sejauh ini Dhee tak berfikir sampai disitu, " Ya kota mangkok, bayangkan aja, Trenggalek tu dikelilingi oleh Gunung, Disetiap mata memandang, ke kiri, ke kanan, ke utara, selatan,. barat daya,. ke segala penjuru mata angin lah,... kita akan melihat gunung, coba deh bayangkan.." terang dosen Dhee yang sepertinya tahu apa yang sedang difikirkan Dhee.
"Iya juga ya..." kata Dhee lirih,dia senyum-senyum sambil mengangguk-angguk, ah..lihatlah betapa Dhee sangat bangga dilahirkan di kota kecil itu. Selama ini Dhee menjelaskan kota kecilnya dengan Marmernya, dengan pantai pasir putih nya, sawah nya, udara yang sangat segar, tapi belum dengan gunung yang mengelilinginya.
Pembicaraan Dhee dengan sang dosen ternyata mampu membuatnya melintasi ruang dan waktu saat dia masih kecil, kecil sekali, waktu itu Dhee mengaji Iqra' di TPQ Thoriqul Huda ( Taman Pendidikan Quran ). Sang Ustad lagi menerangkan terjadinya kiamat.
" Jika masa itu telah tiba kita seperti kapas yang berterbangan, matahari tepat satu jengkal di atas kepala kita, gunung-gunung bertabrakan satu sama lain" kata sang Ustad khidmat, Dhee dan teman-temanya menggidik mendengernya, mereka saling tatap dan saling mengucap janji tuk saling mengingatkan, padahal baru kemarin siang Dhee dan teman-teman berdiri di tengah sawah yang luas dan melihat ke segala arah yang ada hanya gunung. Segerombolan anak kecil itu dengan sangat PEDE mematenkan gunungnya masing-masing, saat itu Dhee memilih sebuah gunung yang berada di arah Barat, gunung yang menjulang Tinggi sekali dan masih nampak berwarna hijau, fikir Dhee dibalik gunung itu adalah Mekah, karena Dhee sholat menghadap ke Barat ke arah Kiblat. Itulah mengapa Dhee memilih gunung itu, itupun harus berebut dengan Nad, yang kekeh-sumekeh memilih gunung yang sama dengan Dhee. Namun Dhee berhasil memenangkan kepemilikan gunung tersebut dengan lomba lari dari tempat mereka berdiri samapi ke sungai yang membelah hamparan luas sawah tersebut. Walaupun dengan sedikit kesal Nad memilih gunung yang lain sebelum semua telah dimiliki oleh teman-teman kita yang lain.
Setelah terdiam sejenak, sambil mendengarkan sang ustadz memberikan ceramahnya Dhee berbisik ke Nad "Aku ntar mau ke Jakarta aja, kan jauh dari sini, pasti di sana aman karena ga ada gunung yang mengelilinginy"
"Masak sih Dhee? aku ikut ya?" respon Nad sambil berbisik pula. "Mang kamu dah pernah ke jakarta ya Dhee?" tanya Nad penuh selidik, Dhee hanya nyengir sambil membetulkan jilbabnya yang berantakan. Nad ikut nyengir karena dia tahu pasti Dhee belum pernah ke Jakarta.
"Dan dimanapun kalian bersembunyi kalian takkan selamat, hanya iman kalian lah yang akan membantu kalian, sungguh hari akhir itu semakin dekat, maka mari kita meniatkan segala apa yang kita lakukan sebagai ibadah, meluruskan hati kita dengan ikhlas, berdoa sebanyak-banyak nya semoga kita jadi hamba pilihan, hamba-hamba Allah yang beruntung. Amin" sang Ustadz menutup pelajaran nya di sore yang temaram ini.
"Amin.." ucap murid-murid mengaji itu serempak.
Malam itu  Dhee berfikir untuk sekolah dengan benar biar ilmunya bermanfaat, berfikir cara pergi ke Jakarta, dan yang pasti berfikir melewati gunung nya yang akan membawanya ke suatu tempat yang diinginkan semua umat muslim. "Dhee pengen pergi jauh" gumam Dhee di antara kantuk dan terjaganya.
 ---
 " Sayank tau ga, kalau kota kecil kita tu dijulukin kota mangkok?" tanya Dhee antusias, Samu menghentikan mengunyah pisah goreng, menoleh ke arah Dhee sambil menggeleng. Dhee dengan senang hati menjelaskan semua tentang kota kecil itu, kota yang menyimpan sejuta kenangan dan harapan. Samu mendengar dengan seksama sambil sesekali tertawa terbahak melihat tingkah unik Dhee yang menceritakan respon teman-teman yang selalu tidak tahu letak Trenggalek, yang bilang namanya aneh, susah dilafalkan, apa hubunganya dengan Trenggiling. Dan masih banyak lagi respon-respon unik dari para teman-teman yang lain, namun apapun tanggapan temannya, Dhee akan tetap bangga dengan Trenggalek.


NB : Sekarang di Trenggalek lagi musim Panen. Pasti semua lagi sibuk....

Selasa, 03 April 2012

Jodoh ku


Fahri : "Sebelum aku kesini, sebenarnya ada 2 hal yang bikin aku kagum sama Mesir. Yaitu Al Azhar dan Sungai Nil, karena tanpa sungai Nil, tidak ada Mesir dan tidak ada AL Azhar.
Maria : "Aku juga suka sungai Nil, kalau tidak ada sungai Nil, pasti tidak ada Mesir, tidak ada peradaban, yang ada hanya gurun pasir"... "Kamu percaya pada jodoh, Fahri?"
Fahri : "Ya, setiap orang memiliki…."
Maria : "... jodohnya masing-masing. Itu yang sering kamu bilang".... "Aku rasa sungai Nil dan Mesir itu jodoh, senang ya kalau kita bisa bertemu dengan jodoh yang diberikan Tuhan dari langit"
Fahri : "Bukan dari langit, Maria, tapi dari hati, dekat sekali"
Dialog Fahri dengan Maria di Tepi sungai Nil dalam Film AYAT-AYAT CINTA


"Jodohku maunya ku dirimu
Hingga mati ku ingin bersamamu, ini ikrarku
Jodohku maunya ku dirimu
Satu cinta hingga ajal memisah
Aku dan kamu satu saling mencinta"
By : Anang-Ashanty -Jodohku-
"Setiap nama tempat, nama kejadian, atau nama seseorang akan terlupa seiring dengan berjalanya waktu. tapi tidak dengan rasa,.. sedih, bahagia, cinta. semua akan jelas tersimpan dalam lubuk hati terdalam" beberapa kata diambil dari Film Love, tapi untuk kalimat lengkapnya Dhee lupa. hehehe

Suatu ketika Dhee ditanya oleh seorang temanya,
"Dhee bagaimana kamu yakin kalau dia orangnya" katanya penuh selidik,. Dhee menarik nafas panjang. "Sebenarnya kita akan yakin dia tu orang yang tepat jika kita tau bahwa tak ada lagi orang yang bisa mencintai kita melebihi dia"
Teman Dhee manggut-manggut kepala entah mengerti atau tidak, "Dan yang bisa terima kamu apa adanya?" tanyanya menimpali
"Enggak lah... gila apa, aku perlu diperbaiki kali.." kata Dhee cepat. "Aku dan Dia akan saling mengingatkan tuk berubah ke arah yang bih baik, -aku akan menerima segala kekurangan mu sayank...-. kalau ada cowok bilang itu padamu kau harus tinggalkan dia, karna Dia takan membuatmu lebih baik dari sekarang" kata Dhee menatap serius ke temanya tersebut.
"Iya juga ya Dhee..." kata Teman Dhee mengangguk-anggukan kepalanya kembali. "Trus bagaimana kita tahu kalau tak ada orang yang cinta ma kita melebihi dia?" tanyanya setelah terdiam sesaat.
"Survey pasar lah...." jawab Dhee enteng sambil tersenyum, Dhee melihat raut muka bingung di wajah temanya itu. kemudian Dhee melanjutkan cara pandangnya "Ya... itu bisa kita rasain kok dan hanya kita sendiri yang tahu kualitas cinta kita dan pasangan. Percaya deh... nek mang Dia orang yang tepat untuk kita, semua yang menuju ke arah itu bakal dimudahin ma Allah, bakal ada aja jalan nya, yang penting niat hati lurus untuk menyempurnakan separuh agama kita" Dhee terdiam sesaat.
"Sepertinya bakal panjang ni" batin temanya Dhee sambil cengar-cengir ga jelas.
"Walah..jadi ceramah"  kata Dhee tertawa seolah tau apa yang difikirkan temanya itu.
"Hahahahaaha.." mereka berdua terbahak, saling pandang, dan tertawa lagi. Diam menikmati hayalanya masing-masing.
"Dhee.. pernah terlintas ga sih, bakal nikah secepat ini, ma Dia pula" tanya teman Dhee tiba-tiba.
"Enggak" kata Dhee menggeleng. "Semua terjadi begitu saja, seperti air sungai yang menuju laut,yang penting tujuanya sama air-air disungai itu bakal searah mengalirnya, nek mang sudah satu tujuan masalah waktu ku kira kapan aja hayo.. lebih cepat lebih baik, kata mantan calon orang nomer satu di negara ini" kata Dhee semangat, persis seperti para politikus meneriakkan slogan mereka.
"Wah.. bakal seru kayak nya nek ada segelintir air sungai yang tujuanya ga ke laut" kembali mereka hanya terkekeh membayangkan nya. "Kapan ya Dhee giliranku?" tanya nya menerawang
"Segera... setelah kau siap" kata Dhee pendek.

P.S :  Samu telah mempesonaku tuk masuk ke dunia nya. Terimakasih ya sayank... telah mengubahku dalam banyak hal.

Kamis, 29 Maret 2012

Paket JNE

Cuaca di Tangerang lagi tak menentu, tiba-tiba panas, tiba-tiba mendung, tiba-tiba terang lagi, dan tiba-tiba hujan deras sekali mengguyur kota itu. Dhee terjang guyuran hujan itu dengan Sepeda motornya, Dhee harus berkejar-kejaran dengan waktu, Dia melirik jam tanganya menunjukkan pukul 12.15. "Hari Sabtu kantor Pos buka cuma sampai jam satu, berarti masih ada waktu sekitar 45 menit ni.." gumam Dhee. Cepat-cepat Dhee berganti pakaian yang telah basah karena hujan, kemudian Menyampul sebuah buku, judulnya "Negeri 5 Menara yang di tulis oleh Ahmad Fuadi" yang baru saja dia beli, dia akan kirimkan ke Ibunya di Trenggalek. Dengan cepat Dhee menulis beberapa kata untuk dia selipkan di buku itu.
"Teruntuk Ibunda Tersayang,... Dhee kabarnya baik bu, pastilah ibu tau, tiap hari kan Dhee telfon Ibu, hehehe. Dhee ga isa nulis ni bu.. Bingung mo nulis apa.. yang pasti Dhee sangat Cinta dan Sayang ma Ibu. Kalau ada waktu luang Ibu baca ya, buku ini. O ya Terimakasih buat bapak yang mengijinkan Dhee punya Impian. Peluk Cium dari Ananda : Dhee Samu"
Begitulah Dhee menulis suratnya kepada Ibundanya, singkat, padat, ga jelas. Kemudian dia selipkan sedikit rejeki yang diterimanya. "Bismillahirrahmanirrahim.. semoga berkah" batinya. Dhee langsung membungkus dengan kertas payung coklat. "Jam satu pas" gumamnya sambil melirik jam dinding yang ada di ruang tamu rumahnya. Dhee langsung menuju kantor Pos dengan tergesa-gesa dan berharap hari ini beruntung, tetapi nasib berkata lain, Dhee harus kecewa setelah tau kantor yang ber cat jingga itu sudah sepi dan tergembok dengan rapat. "Sudah tutup Mbak.. kalau hari Sabtu cuma setengah hari" teriak seorang bapak-bapak yang melihat Dhee terdiam sebentar di pintu gerbang Kantor Pos tersebut. Dhee menoleh ke arah suara itu dan tersenyum kecut. Kemudian dia melirik jam tanganya 13:05. "lewat 5 menit" gumamnya sambil menarik nafas panjang. Dhee membelokkan motornya tuk pulang kembali ke rumah, Dia menimbang-nimbang apa yang akan dia lakukan, yang ada difikiranya hanya bagaimana paket buku itu cepat sampai di Ibundanya. "Dhee paketin Sabtu depan atau hari ini ke JNE ya?" fikir Dhee. dalam perjalanan pulang ke rumah Dhee, membaca plangkat sederetan Ruko, dia mencari-cari kantor Jasa Pengirimin Paket. dan "Aha.. itu dia tempatnya" batin Dhee sumringah, setelah melihat tulisan JNE Express Across Nations, dia langsung membelokkan Sepeda motornya dan berfikir akan lebih cepat ni paket sampai, daripada menunggu minggu depan. karena Senin samapi Jumat Dhee kerja dan untuk ijin keluar sangat susah.
"Selamat Siang, Kaka... ada yang bisa kami bantu?" tanya seorang petugas.
"Iya ni Mbak.. mau maketin" kata Dhee sambil tersenyum, dan mengambil duduk tepat dihadapan si Mbaknya.
"Ke Trenggalek ya Kak.." katanya sambil menuliskan nama Penerima dan alamatnya.
 "Yap" kata Dhee bersemangat. "Sampainya kapan ya Mbak?" tanya Dhee iseng, karena sebenarnya disitu dah tertulis paket sampai setelah 6 hari perjalanan.
"Satu minggu dari sekarang itu sudah selambat-selambatnya kak, ada yang bisa kami bantu lagi kak" tanya mbak-mbak yang di JNE ramah
"Ga ada Mbak.. makasih ya Mbak, atas bantuanya" ucap Dhee menggeleng kemudian pamitan keluar dari ruko tersebut.
Dhee pulang kerumah dengan perasaan lega, akhirnya paketan itu sudah terkirim. Dhee melewati rumah makan Padang, dia baru sadar kalau dari pagi belum makan. Dia membeli sebungkus nasi padang dengan lauk udang, dan dibawanya pulang. Dhee sangat jarang makan di warung, sebenarnya dia lebih suka masak sendiri tapi karena hari ini merasa sangat lelah, dan sudah sangat kelaparan akhirnya Dhee memutuskan untuk membeli saja. Sepanjang jalan masih terlihat genangan-genangan air hujan yang baru saja mengguyur kota itu dengan deras dan singkat. Sampai dirumah, sambil menikmati makanan yang baru saja dia beli Dhee membayangkan hari ini, hari yang dilaluinya dengan penuh semangat, pagi-pagi Dhee ikut Les Bahasa, kemudian langsung ke toko buku tuk beli buku keujanan dan langsung ke kantor pos telat 5 menit. "Huft.. semoga Ibu suka dengan buku bacaanya" batin Dhee sambil membayangkan kampung halamanya yang asri dan bertetangga dengan baik. Dhee berharap buku itu akan di baca keponakan-keponakanya, tetangga-tetangganya dan semua orang akan punya impianya sendiri-sendiri.

---
"Sayank...paketan yang buat Ibu dah dikirimn?" tanya Samu sore itu, belum juga Samu berganti pakaian sudah menanyakan paketan buku yang perencanaan nya sudah Dhee sampaikan ke Samu. Dhee cuma menoleh sebentar sambil mengacungkan ke dua jempolnya, kemudian meneruskan memasaknya. Setelah istirahat beberapa jam, Sabtu sore itu Dhee memutuskan untuk memasak, karena setiap Sabtu Samu pulang cepat.
---

Tepat satu minggu setelah paket itu dikirimkan Dhee mencoba konfirmasi ke Ibunya, dan ternyata paket belum sampai. "Mungkin besok Senin" gumam Dhee. "kalau besok Senin lom sampai juga, baru deh konfirmasi ke JNE" fikir Dhee. Senin pagi Dhee langsung telfon JNE dan ya ampun susah sekali masuknya, setelah masuk di bilang bahwa paketan hari ini meluncur ke Trenggalek, sampai di Surabaya dari hari Selasa minggu lalu. "Mungkin ntar sore baru sampek tu paket" batin Dhee. Selasa pagi Dhee konfirmasi lagi ke Ibunya dan ternyata paket belum datang. Dhee sudah sedikit emosi, dia kembali telfon JNE, disuruh bikin laporan dan lain sebagainya. Dhee ikutin semua prosedur dan berharap paket itu cepat sampai ke tangan Ibunda tercinta. Namun hari berikutnya lagi-lagi paket belum sampai. Dhee mencoba contact JNE lewat e-mail, ada tanggapan walaupun tanggapan standart sudah membuat Dhee sedikit lega. "Mbak.. tolong kalau mang paketnya tidak bisa terkirim, balikin ke saya, saya akan kirim lewat yang lain, saya sudah capek mbak menunggu, soalnya tiap di telfon besok -besok terus, bilang yang pasti kapan paketan itu sampai" begitulah Dhee menulis e-mail atau berbicara langsung ke Customer Service nya JNE. Walaupun merasa kesal Dhee konfirmasi ke JNE, begitu seterusnya sampai Dhee sudah lelah untuk Complain, Dhee lelah konfirmasi,.. Hari ke-17 Dhee meratap ke Allah  "Ya.. Allah, Dhee ga tahu harus usaha apa lagi tuk paket itu akhirnya sampai ke tangan Ibu, Dhee dah capek ya Allah". Hp dhee berdering. terpampang pada layar nomer yang tak dikenalin Contact Hp 021... "Nomer lokal" batin Dhee, dengan malas dia angkat telfon dan "hallo...". "iya pak.." "terimaksih". begitulah kiranya Dhee menimpali kata orang yang barusan menelfonya. "Alhamdilillah, terimkasih ya Allah, mang percuma mengeluh ke orang, andai saja kemarin-kemarin ku langsung minta ke Allah, ku kan tidak kecewa... karena Allah selalu tau apa yang aku butuhkan...Sekali lagi terimakasih ya Allah.. Paketan itu akhirnya sampai juga ke tangan Ibu" Ucap Dhee lirih sambil terus menerawang.

---

"Dhee ga akan paketin lagi lewat JNE, bikin Dhee marah-marah, emosi, dan capek hati". kata Dhee ke Samu saat sore itu, tepat hari ke-17 sore, saat Samu menanyakan tentang paketan untuk Ibu. Samu hanya tersenyum "Gak papa, buat pengalaman, pengalaman tu mahal lo Yank... harus ditebus dengan kesabaran yang panjang" katanya kalem. Aku memandangnya dengan malas, "Udah ah... manyun nya, tambah jelek tu" kata Samu sambil mengacak-ngacak rambutku. "Apaan sih" kataku pura-pura marah sambil cubit pinggang Samu. "Ampun Sayank.." kata Samu cengar-cengir menahan sakit. Aku tertawa sambil berlalu tuk siapin makan sore kita hari itu. Rasa kesal 17 hari menunggu itu menguap tak bersisa, yang ada sekarang harapan tuk segera bisa mengirimkan paket lagi ke Ibu. pi tetap tekad Dhee dah bulat, Dhee cuma akan paketin lewat kantor Pos.

NB : Suamiku.. terimakasih atas kelapangan hatinya dan pengertianya. Nanti kita diskusikan paket buat bulan depan ya!. LOVE u so much.....

Minggu, 04 Maret 2012

Keinginan Itu....

Sampai di tempat kerja, dhee menyiapkan hal-hal yang akan diperlukan untuk hari ini,.,."Bip..Bip..Bip" tiba-tiba ponselnya bergetar tanda ada SMS masuk. "Tumben pagi-pagi ada yang SMS" batin Dhee sambil mengeluarkan Hp dari dalam tas nya, dia buka dan sebuah SMS dari sahabatnya mengabari tentang hal menakjubkan dan membahagiakan sekali.. SMS yang singkat dan jelas." Dhee... aku positif". itu bunyi SMS dari Indah alias Bubur yang nikahanya Dhee posting dengan judul ISTIMEWANYA KAMU.

Sejenak Dhee menarik nafas, Subhanallah.. Alhamdulilah, puji syukur kehadirat Allah,. Dhee mau punya keponakan lagi. Setelah memberikan selamat dan mengabarkan betapa bahagia nya hati Dhee ke Indah, Dhee langsung kirim kabar tersebut ke Imunk dan Samu. Dengan lincah jari Dhee mengetik huruf demi huruf yang akan dia kirimkan ke suaminya Samu.
" Selamat pagi Cinta... Semoga hari ini diberi kemudahan ma Allah... Ayah.. bubur dah positif, semoga sebentar lagi kita menyusul ya yah! Amin.... Bunda cinta Ayah karena Allah"
Itu lah bunyi SMA Dhee untuk Samu, tidak membutuhkan waktu yang lama tuk Samu membalas SMS itu.
"Iya Bundaku. Amin3x ya Robbal alamin"
Balasan pesan singkat Samu yang khas. Dhee cuma tersenyum dan kembali berdoa lirih di pagi yang cerah ini
"Ya.. Allah limpahkan rizki mu untuk kelurga kecilku, keluarga kecil Bubur yang akan kedatangan anggota baru, keluarga kecil Cincu yang telah lebih merasakan menjadi orang tua, dan buat Imunk yang akan memiliki keluarganya sendiri. Amin"

Kembali Dhee berdoa lirih "Ya Allah aku bersujud tuk meminta ampunan karena ketidak tahuanku, karena keterbatasaan pengetahuanku, dan karena ke sok tauanku.. aku bersimpuh kepada-Mu ya Allah...." Kegalauan Perempuan muda itu tak dapat disembunyikan dari wajah nya.

Buat Dhee, berita bahagia dari Indah sedikit mengusik ketenangan hatinya, dia berjalan ke arah jendela, menghirup udara pagi yang masih berembun itu dalam-dalam, dan dia berkata lirih, lirih sekali hampir-hampir tak ada yang mampu mendengarnya "Surat itu belum ada balasanya, mungkin masih di waiting room, karena saking banyaknya surat-surat dengan alamat yang sama, atau masih dalam perjalanan menuju ke sana. Mungkin masih menggantung di langit biru yang luas, atau lagi berselancar di laut bergulung-gulung dengan ombak, atau mungkin terombang-ambing angin yang kadang badai kadang damai sepoi-sepoi. Tapi tak apalah.. aku akan menunggu saat istimewa itu". Harapan yang begitu tulus dari seorang perempuan, dia yakin doa-doa nya menggetarkan partikel-partikel kecil yang bersambungan sampai di tempat tujuanya. 

Surat permohonan yang Dhee tulis dengan sangat hati-hati, dipersiapkan selama tiga tahun, difikirkan masak-masak kata-kata yang akan dia pergunakan, dia tidak sendiri, dia selalu berkonsultasi ke Samu apa isi suratnya dah sesuai, apa kalimatnya sudah membentuk EYD yang baik. Samu selalu memberi masukan ini-itu sehingga surat itu baru selesai setelah perencanaan tiga tahun. Dhee benar-benar sangat hati-hati mempersiapkan surat permohonan itu. Kini dia dan Samu hanya harus menunggu dan tetap berdoa surat nya dibalas secepatnya. Samu selalu ada buat Dhee, mendampingi dan meyakinkan Dhee. Suatu malam saat Dhee sangat galau Samu mendekatinya dan menggenggam tangannya "Dia juga ga sabar ketemu kamu sayank.... dia sedang menunggu namanya dipanggil dan dikirimkan untuk kita, Allah lagi memilihkan yang terbaik buat kita sayank, seperti kita yang mempersiapkan kehadiranya dengan sebaik-baiknya."

Dhee kembali menarik nafas panjang, membayangklan Samu hatinya menjadi damai kembali, ketenangan samu dalam hadapi segala masalah, kegigihan Samu memenuhi semua kebutuhanya, kebutuhan Samu yang selalu ingin melihatnya tersenyum. Kata-kata Samu selalu membuat Dhee tenang,.,. "I misz u so much my hubby" batinya lirih masih tetap tersenyum.

Hari itu Dhee mengawali harinya dengan semangat dan kerinduan baru.

PS : Terimakasih buat Bubur ma Ms.Miko atas kabar bahagianya, dan juga wat Misua yang selalu bisa menenangkan dan meyakinkanku. ^_^ .





Kamis, 09 Februari 2012

Istimewanya Kamu

Setiap orang mempunyai hari istimewa nya sendiri-sendiri. Hari dimana kita lahir, pertama menatap orang yang istimewa, memutuskan tuk menikah, dan yang paling istimewa saat kita mendapatkan kepercayaan dari Allah tuk mempunyai seorang anak, anak kecil yang lucu.... atau bahkan hari istimewa yang kita lewati dengan sahabat-sahabat kita yang sudah lebih dari sekeder sahabat. Dhee, Imunk, dan Indah mengawali pertemanan mereka di bangku kuliah S1 Pendidikan Fisika, waktu itu bersama dengan Widy dan Dwi (kami memanggil nya dengan cincu)... Dan samapi sekarang Dhee, Imunk, Indah, dan Cincu masih sering berkomunikasi dan berjanji tuk saling berkunjung, walaupun janji-janji itu terlupa begitu saja dengan kesibukan masing-masing. Pi kita yakin suatu saat Allah bakal mempertemukan kita dengan cara-Nya yang elegan dan mempesona. ( We Always Pray to it )

Ini cerita bukan tentang aku, aku menulis khusus buat sahabatku yang pada tanggal 21 Januari 2012 telah menemukan hari istimrwanya. Ini tentang Rosindah Nurmita ( Just call she, Indah ). Diantara kami Indah adalah orang yang paling semangat, paling nasionalisme, dan apa aja di ukur pakek hati dan perasaan. Dulu, dialah yang selalu datang ke kampus lebih awal, buku catatanya sangat lengkap ( apapun yang diomongin sama dosen dicatat ma Dia ), menyemangatiku tuk mengerjakan Tugas Akhir, selalu menjaga persahabatan kami.

Sabtu pagi, 21 Januari 2012
"Dhee... kangen sekali" Indah memelukku erat ketika aku sampai dirumahnya pagi itu, ya aku janjian ma Imunk tuk datang ke hari istimewa sahabat istimewa kami. Dia melepaskan pelukanya, dia mengamatiku dari ujung kaki ke ujung kepala, aku tersenyum gembira tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. "Masih Dhee yang dulu" katanya sambil merangkul ku tuk menunjukkan kamar pengantinya. 
"Dhee.. mau mandi dulu atau mau boboan aja?" tanya Indah, "Iya.. iya.. aku tahu, pasti mandi dulu kan!" ucapnya sambil tertawa lepas, karna mang kebiasaanku daridulu tuk bersih-bersih lebih dulu sebelum melakuakn apapun, aku tertawa sambil menyiapkan perlengkapan mandiku. aku bener-bener sangat senang saat ini, bisa melihat kebahgiaan sahabatku.

Acara pernikahan Indah berjalan dengan sangat Khidmat, saya akan perkenalkan suami yang akhirnya dipilih oleh Indah dari sekian kandidat yang pernah menyentuh hatinya dialah.. Jatmiko, kami memanggilnya Mas Miko, Angkatan Laut dinas di Jakarta Utara. Maka nikahan Indah dan Mas Miko pakek upacara HastaPora.,.,., Saat mereka mengikrarkan janji, Mas Miko menatap Indah begitu dalam dan senyum Indah tak lepas dari Bibir indahnya. Aku sangat bahagia melihat mereka, serasi sekali.... Tapi Mas Miko sedikit tidak lepas tawa dan kebahagiaanya semua terangkum jelas dalam mimik wajahnya,... kebahagiaan itu sedikit terganjal karena Ayah Mas Miko sedang terbaring lemas di rumah sakit, sehingga tak mampu mendampingi putra kebanggaanya di hari yang paling dia nantikan dalam sisa-sisa hidupnya.
Sabtu Siang,...
Acara Adat pun sudah terselesaikan dengan baik, tapi sahabatku belum kunjung menampakkan batang hidungnya, Aku mulai kwatir, Indah pun dah berulang kali menanyakan kepadaku "Imunk sampai dimana?"
"Imunk... kau dah pek mana ni? lama banget sih sampeknya? dah kangen ni..."
Aku mengirimkan SMS ke Hp nya.
"Masih ngetam Dhee bus nya, hadew panas lagi.. trus ni aku mo mabok, Ni aku naek Bus Ekonomi, soale tadi kado yang buat Indah, diambil ma Kenek nya trus dibawa lari, ya.. aku jadi ikutin.. huft.. sebel..sebel..sebel.."
Balas Imunk, aku sebenarnya sangat kasian, membayangkan wajahnya yang lugu dan tak berdosa berlari-lari ngikutin kenek yang membawa kadonya, tapi yang keluar malah tertawa terkekeh. 
"Ya udah.. sabar nanti nek dah deket SMS ya!"
SMS ku tak di balas oleh Imunk, kesimpulanku saat itu dia dah Hoak_Hoek di Bus. 
 "Dhee.... panas banget ni, dicopot ya bajunya?" tanya Indah padaku
"Jangan dunk, Imunk kan lom foto bareng, ntar dulu lah... sedikit lagi juga sampek" kataku mencegah Indah tuk menghapus make up nya, sedangkan Mas Miko dah ganti baju yang terlihat lebih nyantai, karena emang acara pernikahanya sudah selesai.

Sabtu Sore,...
Setelah mandi, ku rebahan di kamar tidur,tak lama berselang ada suara-suara sayup....
"Imunk... masih seperti yang dulu" kata Indah menyambut kedatangan Imunk, aku langsung loncat dari kamar tidur dan menghampiri imunk. 
"Imunk..." panggilku, dan aku langsung memeluknya,.. "Bau acem" kataku sambil memencet Hidung menirukan adegan iklan di TV.
"Apaan sih Dhee.." katanya melepaskan pelukanku, trus dia mencium-ciumi baunya sendiri, "Iya sih asem" katanya innocent, kita saling pandang dan tertawa bersama.....
"Indah.. cantik banget" Komen Imunk setelah tersadar kembali dan melihat Indah.
"Demi Imunk ni.... belum aku buka-buka ni baju ma make up, dah gerah banget padahal..." kata Indah pura-pura kesel. Imunk hanya nyengir,..
"Oke.. sekarang.. waktunya foto-foto" kataku.. Jadilah foto-foto kami bertiga sesi ke dua setelah acara foto-foto di laptop ku pas semester pertama dulu, dulu banget. Jadilah kami Alay ( Kata anak sekarang ).... gaya CerryBelle, gaya Love, Gaya Manyun, Gaya Kaget, Gaya Cium Indah... pokoknya semua gaya ada.... wkwkwkwk.. kami tertawa-tawa melihat hasil foto itu...
Tanggung jawab Imunk tuk membantu Indah mencopot baju pengantinya dan membersihkan make-up. Seharusnya setelah semua ini selesai, seharusnya Indah kan mandi ya? bener kan!
Tapi..... Dia tidak mandi Sodara-sodara..... aku dan Imunk dah membujuknya tuk mandi dulu, dengan berbagai argumen, tapi ga ngefek sama sekali.
"Masih Indah yang dulu" kata ku dan Imunk bebarengan sambil menarik nafas panjang. Indah ma cuma berlalu dengan cuek, menemui tamu-tamu yang masih datang walaupun acara nya dah selesai.

Malam nya......
Kita bertiga rebahan di kasur, dan saling bercerita,..... inilah adalah saat-saat yang takkan pernah terlupa...
Cerita-cerita Indah tentang ngajarnya dari Pemalang ke Palembang, perpisahanya dengan anak didik di Palembang yang sangat dia kasihi, dan yang paling kita tunggu-tunggu adalah tentang perjalanan cintanya dengan Mas Miko, bagaimana dia memantapkan hati bahwa Mas Miko lah yang terbaik buat nya, Saat-saat pertengkaranya dengan Mas Miko,... Aku dan Imunk mendengarkan dengan penuh seksama dan sesekali bertanya,...
Kemudian Imunk yang cerita tentang S2 nya, teman-temanya, pola pikirnya, murid-murid disekolahnya, dan tentang Mas Andry kekasih hatinya, keposesifanya, kecemburuanya, kegalauanya.... 
Semua tampak begitu Elok, begitu mempesona, dan aku serasa mempunyai 3 dunia, duniaku, dunia Indah, dan dunia Imunk,. karena cerita mereka tampak begitu nyata untukku.
Dalam hatiku berdoa lirih "Ya.. Allah, pertemukan kami kembali dengan cara Mu yang lebih Elegan" Amin.. Aku yakin ke dua sahabatku memanjatkan do'a yang sama.

Minggu Siang..
Hujan mengguyur Pemalang, kita yang rencananya mau ke pantai pun tertunda, dan tak lengkap rasanya kalau tak ada Cincu. Cincu tak bisa hadir karena baru saja melahirkan putra pertamanya Anam,. jadi kami putuskan tuk Calling dia.
"Dhee...kamu di rumah indah? ma Imunk juga, kalian ini... aku ga ada" katanya di ujung telfon.
"Tenang Cu.. ntar kita kerumahmu" kata ku dengan tenang dan meyakinkan
"Iya Dhee? kapan?" tanya Cincu antusias
"Nantilah, nunggu Imunk maen ke Tangerang" kataku santai
"Yah... kapan dunk itu.. Anam di tengokin dunk tante..." Cincu dah mulai memfitnah anaknya ni, padahal Anam juga lom isa ngapa-ngapa in, mana ada dia mo di tengokoin tante-tante nya coba?
"Tunggu waktu yang tepat ya dek..."kataku ga kalah sableng, knapa juga aku jawab pertanyaan Anam coba, dah tahu Anam nya masih bisa menangis... Hadew...
"Ya Udah.. Tan.. Anam tunggu ya" masih suara Cincu yang di buat-buat menirukan anak kecil, karna seolah-olah dia memposisikan Anam yang ngomong. 
"Obrolan ini sepertinya harus segera dihentikan" fikir ku, " Baiklah.. ni tante Indah mau ngomong, mau konsultasi malam pertamanya sepertinya" kataku menyerahkan Hp ke Indah.
Dan mereka pun ngobrol dengan seru, mengata-ngatai ku yang belom punya dedek kecil, mengata-ngatai Imunk yang belum cukup umur, sesekali aku dan Imunk menimpali pembicaraan mereka dan tertawa terkekeh-kekeh.


Senin Pagi....
Waktu nya sudah habis, kini saatnya berpamitan dan ucapkan banyak Maaf dan Khilaf kepada Bapak Indah, Ibu Indah, Hafid ( Adeknya Indah) atas sedikit keributan yang kami ciptakan, sedikit kekoyolan yang kami bawa,.. Dan terima kasih yang begitu besar kepada keluarga Indah yang telah menerima kami dengan terbuka....menyediakan makan dan tempat tidur untuk kami...
Kami tetap senang walaupun ga jadi ke pantai ( kalau yang ini bo'ong.. hehehe)
Hampir lupa ni.. buat Mas Miko makasih dah nganter kita cari bus buat pulang, titip Indah ya.... Cintai dan Sayangi dia semampu mu..

Semoga tali silaturahmi tak terputus sampai disini.
Amin..


PS : Untuk Buim.. aku tunggu di tangerang ya! ntar kita jalan-jalan ke Cincu dan Bubur...

Jumat, 13 Januari 2012

Sudah Tepatkah Keputusan Itu

Sore ini terasa beda.. sesak itu kembali lagi.. sesak yang lama telah hilang dari hatiku. hanya karena aku kembali melihat website itu, hatiku bergetar. Ku pejamkan mata mencoba menikmati apa yang sudah aku putuskan, tak boleh menyesal, tak boleh ragu, aku harus jalani semua ini dengan baik, sampai JULI 2013. Namun sungguh, ini sangat menyesakkan, ku coba lagi tuk tenangkan hati, menarik nafas panjang-panjang hingga udara itu masuk semua memenuhi paru-paru ku, ku hempaskan perlahan seakan udara itu teramat sayang untuk dikeluarkan kembali, aku terus berusaha memupuk kepercayaan ku bahwa inilah yang terbaik yang ditunjukkan oleh Allah untukku.
Aku akan sedikit memaksa otakku tuk mengingat kembali masa yang indah itu, walaupun sejenak,....

September 2011
Kontrak kerjaku berakhir Desember 2011 sebagai Karyawan, aku mempunyai cita-cita tuk menjadi pendidik, aku ingin memberikan sesuatu untuk bangsa dan agamaku semampuku, dan ku yakin ku punya kemampuan tuk mengajar dengan baik, namun kesempatan yang belum ada. Aku tak berhenti berusaha tuk menjadi seorang pendidik, sampai akhirnya aku melamar kerja di Sekolah Tinggi Swasta di Tangerang, dan Surprise aku di terima tapi hanya sebagai Tutor dan asisten Dosen Fisika karena aku lulusan Pendidikan Fisika S1 sedangkan untuk menjadi dosen harus menempuh pendidikan master, aku girang bukan kepalang, aku sangat bahagia, akhirnya aku kan isa buktikan bahwa aku bisa mengajar. Aku sangat menantikan hari itu....

Awal Oktober 2011
Aku mulai merasa ragu karna sudah tiga minggu kontrak kerjaku belum selesai, aku berfikir "ga profesional bgt sih". Dan aku mulai tergoda tawaran dari Yayasan, dimana aku bekerja sekarang untuk menjadi pengajar Sains di SD. Tapi aku masih menunggu kepastian dari Sekolah Tinggi Swasta itu, aku sudah jatuh cinta denganya, dengan lingkungan dan visi misi nya, tapi kontrak kerja itu tak kunjung selesai sampai akhir Oktober. Aku mulai panik, mulai pertimbangkan tawaran dari Atasanku, kesana kemari aku cari teman tuk memberikan gambaran dan masukan untukku.

Kata Imunk : "Di Sekolah Tinggi aja bu, kan ada kesempatan untuk S2, mengejar kembali cita-cita buO, dijanjiin bea siswa kan?". 
Kata Apik atau Wawan ( I am Forget it ) : "Di Sekolah Tinggi aja, temen lo ntar Profesor-Profesor jadi ntar lo ikut pinter".
Kata Bu Henry : "Udah ngajar Sains di SD aja, kan di Sekolah Tinggi itu kamu jadi Tutor dan Asisten Dosen, kamu ga akan jadi peran utama, mending di sini, kau tak jadi bayangan dari siapa-siapa"
Kata Mas Takim (kakaku) :"Udah lah dhe, jangan mikirin karier terus, mau S2 segala lagi, di SD aja, kan tempatmu kerja sekarang sudah ada jaminan kesehatan, bonus. Pa lagi dah waktunya adhe mikirin punya Baby, bahagiain Ibu ma Ayah"
Kata Ibu : "Di manapun kau akan bekerja, Ibu selalu bangga padamu Ndok..."
Kata Ayah : "Kau fikirkanlah masak-masak, kau mau cari aman atau cari tantangan?"
Kata Bu hendry lagi : "Dhee.... nanti nek di Sekolah Tinggi itu foto mu ga ada lo di website nya dia, trus ni kok lowongan pekerjaan nya ga keren ya dhee? (hehehe..)"
Kata P.Ian : "Sekarang tu Dhee, jamanya kita yakinin ke sebuah perasaan Rugi nek ga memperkerjakan kita, bukan kita yang rugi."
Kata Kepsek SD : "Sayang sekali lo nek keluar tahun ini, setahun lagi bisa tetap. Belum pernah kan bekerja di sekolah Formal? Coba dulu deh, biar kamu tahu rasanya kayak apa"
Kata P.Edy : "Kamu hanya setahun kontrak kerjanya, dan tahun berikutnya langsung tetap. Disini kamu akan di pacu untuk berkembang, dan saya yakin kamu akan memperoleh banyak disini"
Kata HRD : "Biarkan Tuhan mu menuntunmu, kemana kau harus melangkah."
Kata Indah : "Bu.. cobalah meniti karir di satu tempat, jangan tiap ada masalah atau bosen keluar dari tempat bekerja dan mencari kerjaan yang lain, dimanapun tempat kerjanya kita akan menemui hal yang sama dalam wujud yang berbeda, Trust me!" 
Kata suamiku : "Dimana aja, asal buat sayank nyama dan bisa menjalani nya dengan Happy, akan slalu aku dukung"

Sampai pada akhirnya, aku sendirilah yang harus memutuskan kemana dalam setahun ke depan aku belajar memaknai dan menjalani hidup, dan aku melihat dengan mengajar Sains SD aku akan bisa banyak belajar tuk memahami karakter anak-anak dan yang pasti mandiri tuk berkreasi. 

Desember 2011
Aku tanda tangan kontrak tuk mengajar Sains SD, dan pertama kali ku mendengar ada yang tidak beres dengan sikap sebagian karyawan yang lain. Aku tak tau apa yang aku dengar benar atau salah, pada akhirnya semua ini akan menunjukkan kualitas seseorang itu  seperti apa. Aku sebenarnya tak mau ambil pusing, tapi sedikit banyak telingaku panas jika ada yang bilang aku anak kesayangan atasanku,.,.
Ya Allah lima kali dalam sehari aku bersujud kepada-Mu untuk dijauhkan dari fitnah,aku berfikir, sikap ku yang mana yang membuat mereka berfikir aku deketin atasanku tuk mendapatkan posisi mengajar Sains di SD. Aku tak mau sikapku mermbuat orang lain mengotori hatinya. Tapi aku sama sekali tak tau, what their reason to judge me like that, aku selama ini meminimalisir tuk bersinggungan langsung dengan atasanku. Hal-hal yang seperti itulah yang membuatku tak betah disini, membuatku menyesali apa yang aku tlah tanda tangani, membuat merasa salah memutuskan tuk bertahan di sini. Tapi ya sudahlah, keputusan sudah aku ambil, aku juga sudah tanda tangan kontrak dia atas materai. Jadi, inilah hidup yang akan aku jalani satu setengah tahun ke depan. Semoga Allah selalu menuntunku dan memberikan apa yang aku butuhkan, bukan apa yang aku inginkan.

Hari ini aku hanya teringat Sekolah Tinggi tersebut, dan aku tahu dan aku yakin jika Allah berkehandak aku boleh sedikit menyumbangkan ilmu ku untuk Indonesia-ku, ku yakin Allah akan berikan ku kesempatan tuk tunjukkan betapa aku sangat mencintai Indonesiaku. Aku ingin mengabdikan diri tuk mencerdaskan anak bangsa demi kelagsungan Negeri ku tercinta. Semoga kesempatan itu masih ada.. Amin...

P.S. : Thanks to All my friend, tanpamu hidup ini tak berwarna.