Selasa, 19 Juli 2011

Gaya Hidup

Sabtu ini Dhee memilih untuk menyegarkan hati yang sempat galau akibat suasana tempat kerja yang tidak kondusif.
"Yank, besok Dhee ikut ke proyek ya!" Jumat sore Dhee menelfon Samu.
"Tapi aku sibuk sekali yank" kata Samu ragu.
"Sayank tidak perlu menemani Dhee kok, Dhee cuma mau jalan-jalan, suntuk sekali rasanya" tukas Dhee cepat, kebetulan Samu lagi mengerjakan proyek di daerah Senayan.
"Baiklah kalau begitu, besok pagi jam Enam kita berangkat" akhirnya Samu menyerah.

Jam Tujuh pagi Dhee sudah berada di kawasan Senayan, tapi masih sangat sepi, hanya ada beberapa satpam yang berjaga. Dhee baru pertama ini mengunjungi kawasan Senayan dipagi hari, biasanya cuma sekedar ke Senayan City untuk nonton kemudian langsung pulang. Tapi hari ini beda, Dhee seharian akan berada di kawasan Senayan. Dia berjalan sendiri menyusuri taman-taman yang asri, taman-taman tersebut sengaja dibuat di depan mall-mall besar, Dhee sangat senang melihat bunga yang berwarna-warni, dia bersenandung lirih, dia bener-benar mau menikmati hari ini. Pagi yg sejuk, tapi Dhee harus menggunakan masker untuk mencegah polusi masuk ke paru-parunya melalui hidung. Namun, hal itu sama sekali tidak menggagu apa yg sedang dinikmatin oleh Dhee. Dia berjalan memutar, menyeberang jalan dengan berjingkat-jingkat. Dia amati satu persatu gedung-gedung yang menjulang tinggi, dari mulai bank, mall, kantor pemerintahan, tak ketinggalan pedagang-pedagang kecil di sepanjang trotoar kawasan itu.
"Tinggal pilih" batin Dhee.
Dia teringat saat pertama kali memperoleh kerja di Jakarta Dua tahun lalu, HRD perusahaan itu bilang "Dhee, di Jakarta semua tersedia, makanan, pakaian, kebutuhan pokok, dengan harga yang sangat variatif dari yang harganya ribuan sampai jutaan. Dhee tinggal pilih,mau bergaya hidup seperti apa"
Dhee menarik nafas panjang dan menghempaskanya pelan. "Dhee tinggal pilih mau bergaya hidup seperti apa" kata-kata itu selalu terngiang ditelinga nya. "Jika mau makan sederhana warteg (Warung Tegal) menyebar di seluruh penjuru kota Jakarta, kalau mau makan yang mahal tinggal masuk Mall seperti ini, kalau mau beli baju sederhana, banyak dijual di pasar-pasar, namun yang bermerek juga banyak. Dan kita bisa memilih apa yang kita sukai"
Dhee memperhatikan kembali orang-orang yang berlalu lalang di depanya, para karyawan mall yang mulai berdatangan dengan Kopaja (bus umum), dengan berbagai gaya mereka, dari yang sederhana sampai yang bermake up tebal. Pukul 10.00 WIB mall mulai buka, Dhee bergegas menuju toilet, karna memang sudah dari pagi menahan buang air kecil. Di toilet dia bertemu dengan cleaning service yang sangat tidak ramah.
"Mungkin memang harus berpakaian branded, supaya dihargain" gumam Dhee dalam hati, memang dimana-mana jabatan, kekayaan, akan mempengaruhi banyak hal. Tapi sebenarnya yang paling berharga adalah jiwa yang bersih.
"Andai semua orang berfikir sama sepertiku" Dhee masih tidak habis fikir, kenapa orang-orang susah banget menghargai orang lain, dan selalu me-judge orang dari penampilan luarnya, tapi Dhee tidak memusingkan masalah tersebut, toh sekarang dia bahagia dengan segala kenikmatan yang dimilikinya, yang di anugerahkan Tuhan kepadanya dan keluarganya. Dhee kembali berjalan-jalan keliling mall, sekarang pemandangan tampak kontras dengan pagi tadi, pengunjung mall dengan mobil-mobil  mewahnya mulai berdatangan, memilih-milih barang yang walaupun sudah didiskon masih sangat mahal menurut Dhee.
Matahari mulai menampakkan keperkasaannya, panas menyengat dirasakan Dhee saat dia memutuskan untuk keluar dari mall.
"Bip.,.bip..." Hp Dhee bergetar, ternyata telfon dari Samu.
"Makan siang yuk, Syank mau makan dimana?" tanya Samu diseberang telfon.
"Mau makan yang biasa wat makan siang" kata Dhee mantab.
"Okey, aku tunggu di taman" kata Samu mengakhiri telfonnya.
Dhee berjalan ke arah taman yang di maksud Samu. Dhee berjalan menyusuri trotoar sambil matanya bergerak-gerak lincah mencari Samu, akhirnya Dhee menemukan suaminya, Samu melambai-lambaikan tanganya dan Dhee berlari kecil menghampirinya. Samu langsung menggandeng tangan Dhee dan pergi makan siang. Sepanjang perjalanan mereka bercanda riang gembira.
"Sayank, mang mau beli apa?" tanya Samu sambil menatap istrinya.
"Ga ada" jawab Dhee singkat sambil menggelengkan kepalanya.
Samu hanya tersenyum gemas melihat tingkah istrinya. Agak heran dengan apa yang dilakukan Dhee hari ini, Dhee tidak suka jalan-jalan ke mall apa lagi tanpa tujuan membeli sesuatu barang yang diinginkanya. "Sebenarnya apa yang dia inginkan Dhee" Samu bertanya-tanya pada dirinya sendiri, dia tidak mau menanyakan ke Dhee karena takut merusak suasana hatinya. Hari ini dilihatnya rona kebahagiaan terpancar dari wajah istrinya tersebut.
"Sayank, ntar habis meeting aku temanin jalan-jalan ya!" kata Samu di tengah-tengah aktivitas mereka makan siang.
"Okey!" jawab Dhee bersemangat, sambil mengacungkan jempolnya. Mereka terdiam sejenak menikmati makan siang mereka. "Jam berapa habis meeting nya?" tiba-tiba Dhee bertanya penuh selidik.
"Kira-kira jam setengah tiga" jawab Samu tenang, Dhee melirik jam dinding, "Masih jam setengah Satu" gumamnya. 
Setelah makan siang Samu kembali ke kantor dan Dhee pergi ke Taman, di tengah-tengah pusat perbelanjaan terdapat sebuah Taman, sebenarnya Dhee ragu apa pantas ini tempat ini di sebut Taman, di situ hanya terdapat 4 pohon Beringin yang di tempatkan di masing-masing pojok taman. Di tengah ada air mancur kecil-kecil. Tak ada satupun bunga atau rumput tumbuh di situ, semua tanah dilapisi marmer. Daun-daun kering yang jatuh dari pohon Beringin sudah langsung di sapu oleh cleaning service, sehingga tempat itu terlihat sangat bersih.
"Hmhmhm... taman apa ini?" tanya Dhee pada dirinya sendiri. Kemudian dia duduk di bawah pohon Beringin, dan pada saat bersamaan air mancur kecil-kecil memancarkan airnya bergantian, seperti berirama. Dhee sangat senang sekali, kesejukan mengalir di hatinya, angin sepoi-sepoi menerpa rambut Dhee menambah kenyamanan tempat itu. Angin sepoi-sepoi itu, lambat laun berubah menjadi angin besar yang menerbangkan daun-daun kecil kesana-kemari. Dhee tersenyum menikmati hari ini, dia pejamkan matanya dan membiarkan angin masuk ke dalam tubuhnya menembus pori-pori kulitnya. Dan dia mulai menuliskan apa yang dia rasakan saat ini, sebelum akhirnya Samu menjemput Dhee untuk pergi jalan-jalan dan meninggalkan taman kecil itu.
PS : Hanya diri kita sendiri yang tahu apa yang membuat kita benar-benar bahagia.

Rabu, 13 Juli 2011

Luangkan Waktumu

Sabtu sore di rumah kecil, rumah yang sederhana, cukup buat pasangan baru, di depan rumah terhampar rumput hijau dan sebuah pohon jeruk, menambah keasrian rumah kecil itu. Dhee dan Samu sedang duduk bersama di teras rumah menikmati suasana sore yang indah. Terlihat anak-anak kecil berlarian mengejar bola, tawa canda mereka terdengar sampai rumah kecil yang damai itu.
Dhee duduk didekat Samu, suaminya, "Sayank dhee mau cerita" kata dhee membuka pembicaraan.
"Cerita apa?" sambut Samu sekenanya.
"Sayank masih ingat Sofi ga?" Tanya dhee.
"Teman dhee ditempat kerja dulu kan!" tanggap Samu cepat, ternyata Samu menyimpan semua cerita Dhee dengan baik. "Dulu kan dhee pernah cerita, orang tuanya cerai, dan menikah dengan mantan pacarnya" kata Samu mengulang cerita Dhee setahun yang lalu. “Trus gimana tu akhirnya, bahagia ga?” Tanya Samu sekenanya.
Dhee hanya mengangkat bahunya. “Sebegitu berpengaruhnya ya, mantan terhadap hubungan rumah tangga” kata Dhee datar, sambil matanya menerawang jauh.
“Jangan bilang kamu ingat dengan mantan mu?” kata Samu memasang muka galak, Dhee hanya melirik Samu sebentar kemudian kembali menerawang jauh. Samu semakin kesal di buatnya. Mereka terdiam sejenak.  
“Dhee tadi ngobrol ma teman SMA, si Agni, ingat kan!” Dhee menatap Samu, Samu hanya mengagguk, mengartikan dia masih ingat. “Dulu kan dia pacaran 5 tahun dengan Pras, trus akhirnya pisah dan menikah dengan Satya, Pras waktu itu harus menjalani masa dinas setahun sehingga ga bias menikahi Agni, sedangkan orang tua Agni mengharuskan Agni menikah tahun itu juga, tapi mereka masih saling mencintai, dan sekarang setelah mereka masing-masing mempunyai dua anak, mereka merajut kembali tali kasih mereka” Dhee menarik nafas, melirik Samu.
“Selingkuh?” Tanya Samu.
”Yups, padahal jika dilihat Agni tu beruntung banget dapat Satya, baik, pintar, kaya, ganteng lagi” kata Dhee mantab.
“Tapi kan kita cuma bisa ngeliat luarnya aja Dhee, ga bakal tahu dalamnya kayak gimana” kata Samu sambil membelai mesra rambut istrinya.
“Iya sih.. kata Agni dia ngerasa sangat tertekan dan putus asa menghadapi pernikahanya dengan Satya, dia selalu direndahkan karna waktu itu Agni ga kerja, sebenarnya Agni ga kerja juga wat ngurus anak-anak mereka, dan mereka sudah lebih dari cukup, buat apa harus memaksakan diri kerja, seharusnya masalah kayak gitu kan bias dibicarain” kata Dhee mulai terbawa emosinya.
“Dhee,.. setiap orang berumah tangga itu bakal ada satu titik kritis, apabila bias melewati titik itu, rumah tangga akan langgeng selamanya, pi kalau ga bisa lewatin masa itu, semua akan hancur” kata Samu sambil menggenggam tangan istrinya, “Ingat kan cerita Ibu?”
Dhee menatap Samu dan mengingat kembali cerita Ibu nya, dulu saat sudah punya dua anak Ibu ma Ayah sempat mau cerai karena perselisihan faham, untung waktu itu Ayah bisa mengendalikan emosinya. “Beberapa hari ni Dhee merasa semdiri Sam…” kata Dhee kemudian, Samu menyimak setiap kata yang terucap dari bibir istrinya, “Dhee mau Sam lebih banyak waktu buat Dhee, ga perlu kuantitas kok, pi kualitas” lanjut Dhee sambil menunduk dan memain-mainkan kaki nya. “Kita jarang ngobrol, hari ini pun karna aku paksa kamu plang lebih awal kan!”
Samu menghela nafas panjang, dia baru tahu apa yang diinginkan istrinya, dia sadar betul akhir-akhir ini dia sibuk sekali dengan pekerjaannya, dia baru ingat beberapa hari lalu Dhee cerita ada orang beberapa kali menghubunginya, pi karna waktu itu Samu sangat sibuk, dia tidak terlalu menanggapi cerita Dhee, “Sayank…. ku ga akan biarkan kamu sendiri lagi, Aku janji…” kata Samu sambil mendekap Dhee erat-erat, kata-katanya yang teduh terdengar sangat mendamaikan hati Dhee. Dhee tersenyum dan wajahnya memerah, karna merasa betapa sangat berartinya dia bagi Samu. Padahal sama sekali tidak terfikirkan oleh Dhee untuk menghianati cinta Samu yang sangat besar kepadanya. Sebenarnya Dhee juga sangat percaya pada Samu, tapi bagaimanapun juga Dhee wanita biasa yang pasti sangat membutuhkan perhatian lebih dari orang yang paling dicintainya di dunia ini.

P.S : Bagi para suami… jangan pernah biarkan istrimu mendapat perhatian dari orang lain bila tak mau kehilanganya

Senin, 13 Juni 2011

Disela-sela Persiapan Seminar

Siang yang terik, aku sedang membantu mempersiapkan acara Seminar, dan terjadilah obrolan yang hangat antara aku dan Ibu Carel. Aku baru bekerja 6 bulan, jadi belum banyak yang tahu tentang aku. Apalagi tempat kerjaku dibagian yang tidak banyak berinteraksi dengan orang. "Ibu Dhee ternyata sudah menikah ya?" dengan sedikit menekankan kata menikah, Ibu Carel nampak heran, aku meliriknya, tersenyum, kemudian menggaguk kecil. " Nggak nyangka lo.. masih kayak Gadis" lanjutnya sambil memandangiku. Aku sudah biasa mendengar kata itu, Ibu Carel adalah orang yang kesekian kalinya yang memberikan komentar yang sama. Padahal menurutku aku sudah layak menyandang status menikah, bahkan suatu ketika ada yang terang-terangan bilang "Tu status di Facebook bohongan pasti" kata seorang temenku penuh keyakinan, dengan susah payah akupun harus menjelaskan kalau aku benar-benar sudah menikah. Mungkin karena perawakanku yang kecil, membuat mereka berfikir aku masih single. Kembali kepembicaraan ku dengan Ibu Carel, aku yakin pertanyaan selanjutnya pasti tentang anak, selang beberapa lama kami terdiam. "Sudah punya anak?" tanya Ibu Carel sambil menata aqua gelas. "Belum bu" jawabku pelan. "Program atau emang belum dikasih?" kali ini Ibu Carel menghentikan sejenak aktivitasnya. Hmhmhm... aku paling susah menjawab pertanyaan ini, karna banyak orang yang tidak mengerti apa niat yang ada di dalam hati. Aku diam sejenak dan akhirnya berkata "Masih dalam proses Ibu" jawabku enteng "Semoga tahun ini Ibu" kataku melanjutkan kalimatku. Ibu Carel tersenyum dengan tenang beliau berkata "Mang Ibu Dhee sudah menikah berapa tahun?" sambil kembali menatapku dengan teduh, "Aku menikah sudah 2 tahun lebih Ibu, Februari 2009 aku memutuskan menikah, waktu itu saya masih kuliah semester 7" kataku sambil mengenang kembali saat yang sangat sulit itu. "Dan semua berfikir aku hamil diluar nikah" kataku menarik nafas panjang. "Aku akan tunjukkan ke mereka bahwa aku ga seperti itu, dan aku akan tunjukkan menikah tidak akan menghambat karier". Ibu Carel diam sejenak kemudian berkata "Aku mengerti Ibu, Aku dan suamiku juga punya rencana untuk Dua tahun kedepan tidak hamil dulu". Sesaat aku tak mempercayai kata-kata Ibu Carel barusan, selama ini kebanyakan orang akan memberikan ceramah yang sama tentang anak "Semua sudah diatur oleh Sang Pencipta Hidup, jadi tidak usah terlalu kwatir" begitu mereka berucap, padahal aku tahu betul itu, dan aku sama sekali tidak meragukan Tuhanku, kalau sudah seperti itu aku biasanya diam, karna membela diripun tidak ada artinya.. Tapi kata-kata Ibu Carel tadi membuatku merasa ada orang yang sefaham denganku, aku sangat senang sekali dan ingin sekali memeluk Ibu Carel tapi takut dikira Lebay. Aku menatapnya berharap beliau mau berbagi cerita tentang ini. "Ya Ibu Dhee kami sudah bersama hampir 5 tahun, makanya kami memutuskan menikah walaupun masih banyak PR yang harus dikerjakan, kami pengen memberikan yang terbaik buat buah hati kami, walaupun mungkin terbaik menurut kami belum tentu terbaik buat Tuhan, tapi kami yakin Tuhan tahu niat baik kami. Ini adalah pilihan kami dan kami akan berjuang untuk  mempertanggungjawabkanya" katanya, dan aku sangat setuju dengan pernyataanya, aku ga tahu harus ngomong apa, aku benar-benar speakless. "Ibu bilang masih ada PR, kalau boleh tahu PR pa ya bu?" tanyaku setelah terdiam beberapa saat, Ibu Carel tersenyum "Aku masih pengen membelikan rumah buat orang tua  ku" jawabnya singkat,pandanganya menerawang jauh. Aku benar-benar sangat tersentak, selama ini aku belum pernah memberikan sesuatu yang berharga buat orang tua ku, tiba-tiba aku sangat merindukan mereka. Dan aku berdoa lirih "Ya Allah berikan selalu kesehatan buat keluarga ku, Amin". Setelah menikah aku ikut suamiku tinggal di Jakarta, jauh dari orang-orang terkasih. Setiap telfon Ibu selalu tanya, "Kapan pulang Nak?", dan aku selalu menjawab " Ibu ga usah kwatir, aku bakal pulang suatu saat nanti, aku akan tinggal dekat dengan Ibu, tapi Ibu harus ikhlas mendoakanku supaya aku bisa buat Ibu ma Bapak bangga dulu" kataku, dan biasanya Ibu menarik nafas panjang dan bilang "Amin,..".
"Eh.. Ibu Dhee kok malah ngelamun... "kata Ibu Carel membuyarkan lamunanku. "liat tu Bapak yang lagi jadi pembicara Seminar" katanya menunjuk Bapak yang lagi berbicara dengan serius, masih tampak guratan-guratan kecerdasanya, walaupun sudah berumur beliau nampak berbicara dengan lantang. "Sepertinya ga ada Negara yang belum beliau kunjungi" lanjut Ibu Carel, aku tidak tahu sama sekala tentang Bapak yang dimaksud tapi aku melihatnya lekat-lekat "Beliau pengurus Yayasan, kemarin waktu rapat yayasan beliau menegaskan bahwa harus ada Nasionalisme di sini, kita boleh mempelajari banyak bahasa Internasional, budaya Negara lain, tapi Nasionalisme harus tetap dipertahankan, padahal beliau tu jarang tinggal di Indonesia dan beliau keturunan China" Ibu Carel sepertinya tahu bahwa aku tidak tahu apapun tentang Bapak itu. Aku terdiam menyimak cerita Ibu Carel dan diam-diam bangga dengan Indonesia dan segala keberagamanya. "O ya Ibu Dhee pernah nonton Film My Name Is Khan ga?" tanya Ibu Carel tiba-tiba membuyarkan fantasiku tentang Indonesia dan Nasionalisme. "Iya bu pernah, yang tentang orang muslim identik dengan teroris dan Khan ingin bilang kesemua penduduk Amerika bahwa dia bukan teroriskan!" jawabku semangat karena emang itu salah satu Film yang ku suka jadi aku ingat betul ceritanya, Ibu Carel mengguk pelan kemudian berkata "Ingat ga kata-kata Ibu nya Khan yang bilang di dunia ini tidak ada orang Muslim, Orang Kristen, Orang Yahudi, Orang Pribumi, Orang Kaya, Orang Miskin, yang ada cuma Orang Baik dan Orang Jahat, aku sangat terkesan dengan kata-kata itu dan emang benar di dunia ini hanya ada dua tipe orang, dan kita boleh memilih mana yang kita suka". Aku terdiam mencerna kalimat terakhir Ibu Carel, Orang Baik dan Orang  Jahat, aku menghela nafas panjang, aku tidak terlalu memperhatikan sedetail itu tapi aku ingat kalimatnya karena jujur aku juga sependapat dengan itu. Waktu menunjukkan pukul 15.00 WIB peserta seminar sudah mulai meninggalkan ruangan, seminar telah usai, aku dan Ibu Carel mengakhiri pembicaraan karena harus mempersilahkan peserta seminar untuk mengisi daftar hadir. "Ibu Carel makasih ya, banyak hal yang aku pelajari hari ini" kataku sebelum meninggalkan beliau dan bersiap untuk pulang. "Sama-sam Ibu" katanya dengan senyum yang menawan, Ibu Carel ni cantik luar biasa, cerdas,  dan berwawasan luas. Aku berharap suatu saat bisa ngobrol lagi dengan beliau. Dan pasti aku akan memperoleh sesuatu yang bermakna tentang hidup dan cara menyikapinya.

P.S : Thank's to Ms.Carel... semoga kita termasuk golongan orang yang baik. Amin..

Senin, 06 Juni 2011

Kerinduan

Sahabat... aku sungguh sangat menyayangi kalian, sepenuh hatiku. Aku selalu ingin tahu apa yang kalian lakukan melebihi keingintahuanku pada kekasihku. Aku selalu ingin memastikan bahwa kalian di sana bahagia dan masih mengingatku.
Sahabat... betapa sakit hatiku, saat ku tahu salah satu dari kalian sedang menangis. Dan saat ku sadar aku tak bisa berbuat apa-apa, aku hanya bisa berdoa lirih "Tuhan berikan yang terbaik buat sahabatku". Ingin rasanya saat itu, aku memelukmu dan mengatakan "Tenang aku kan selalu ada untukmu" tapi kenyataanya aku tidak selalu ada untukmu. Karna kita terpisah jarak. Dulu...dulu sekali pas kita lagi bersamapun, aku tak selalu ada untukmu.
Sahabat... kini semua berbeda, kadang aku ngrasa tak lagi mengenal sifat kalian, kadang rasa kwatir kehilangan bila lama tak ada kabar dari kalian, kadang aku ngrasa tak lagi kalian butuhkan, tapi kadang kita masih sempat merencanakan hal-hal gila yang akan kita lakukan jika kita bertemu, padahal kita sama-sama  ga tahu kapan kita bisa berkumpul bersama seperti dulu. Tapi kita menghiraukanya, kita membiarkan hayalan kita menyatu dan menikmati rencana yang bukan sekedar rencana, tapi mimpi yang akan terus akan kita simpan. Dan suatu saat akan kita wujudkan.... Aku yakin saat kita menyusun rencana bertemu, kalian di sana tertawa terpingkal-pingkal sepertiku, memenuhi otak dengan ide-ide gila yang akan kita lakukan. Hfhfhf...... dan pasti kita sama-sama berbisik lirih dalam hati "Membayangkan nya aja sudah membuatku sangat bahagia". Lalu kita terdiam,...
Sahabat... jika ada salah satu dari kita melakukan kesalahan, sisanya akan saling berkomunikasi ingin mengingatkan bahwa itu kurang tepat, tapi sejuta keraguan datang mengisi kalbu. Takut.. Takut sekali. takut kamu tak lagi ceritakan semua kisahmu, takut kamu tak lagi mempercayai kami, takut membuatmu kecewa karna kau merasa kita tak mendukungmu, dan  yang paling membuat takut adalah kehilangan mu.
Sahabat... sekali lagi karna kita saling menyayangi, kita akan saling mengingatkan, dan jika salah satu dari kita marah, kami yakin kemarahanmu hanya sementara. Karna kami di sini menunggu cerita suka dukamu, tangis senyumu, tiap tapak yang mengiringi keberhasilanmu. Karna itu akan membuat kami merasa hidup dalam dunia yang berbeda, dunia yang mungkin hanya bisa kami nikmati dari cerita-ceritamu.
Sahabat... sejujurnya aku sangat membanggakan kalian, ku simpan rapi semua kisah tentang kita, dan akan ku ceritakan kepada anak cucuku bahwa kita pernah ada, kita pernah merajut mimpi bersama, kita pernah melewati hal-hal sulit, dan kita pernah melakukan hal-hal gila, Bersama...
Aku tahu kita menjalani hidup yang kita pilih, tapi sampai kapanpun kita adalah sahabat,..Aku sangat merindukan kalian, sahabatku.....kalian harus tahu salah satu kebahagian terbesarku adalah bertemu kalian, kalian telah mengajariku keiklasan, berjuang, bermimpi, dan tidak menyerah pada keadaan. 
P.S : If you are in trouble, if you need a hand, just call my number, because i'm your friend!

Sabtu, 04 Juni 2011

Penat yang menyayat

"Yank,bosen banget ni!" keluhku di suatu pagi. "Lha maunya sayank gimana?" tanya suamiku penuh selidik. Aku terdiam, "kontrak kerjanya sampai Desember kan?" sambungnya,aku cuma mengangguk pelan." Aku pengen membagikan apa yang aku tahu, aku bener-bener ga bisa seperti ini terus" kami terdiam sejenak, suamiku menatapku dengan teduh kemudian mendekapku dalam pelukanya. "Sayank,.. Ini adalah proses pendewasaan dan Mas yakin kalau sayank bisa melewati semua ini, sayank akan lebih bijaksana nantinya".
Aku mengulang kembali memoriku,saat aku pertama kali kerja,waktu itu aku belum wisuda pi aku sudah mendapatkan pekerjaan di sebuah perusahaan swasta di jakarta,aku sungguh sangat senang saat itu. Seperti tahu apa yang aku fikirkan, "Kemarin pas kerja sebelumnya sayank pernah mengalami kebosanan juga kan, lebih dari ini malahan'' katanya, ''Kadang kita mengalami kebosanan dengan rutinitas kita,itu hal yang sangat wajar, pi kita harus bertanggung jawab dengan apa yang telah kita putuskan, Mas yakin sayank bisa berbuat sesuatu untuk mengalahkan rasa bosan itu" ucapnya serius.
Hampir 1,5 tahun aku bekerja di sebuah perusahaan swasta, dan pernah merasa sangat bosan karena beban kerja yang begitu besar. Tapi aku bisa melewatinya dengan baik sampai kontrak kerjaku selesai,dan sekarang masih berhubungan baik dengan perusahaan tersebut. Diam-diam aku bersyukur, waktu aku mengalami kepenatan yang memuncak, aku memutuskan untuk tetap tinggal. Dan Allah selalu tahu apa yang kita butuhkan bukan apa yang kita inginkan, empat bulan sebelum kontrak kerjaku selesai aku sudah keterima kerja di tempat lain, dan betapa aku sangat bersyukur saat itu karena perusahaan mau menungguku sampai kontrak kerjaku di tempat kerja lama selesai. "Allah selalu menuntunku" ucapku lirih.
"O iya, sayank kan suka nulis, suka ngrayu Mas dengan kata-kata indah" goda suamiku. "Maksudnya apa?" kataku kesal. "Duh,.sewot amat sih" ternyata suamiku menyadari ke bete-an ku. "Sayank coba aja nulis, ngeblog gtu!" lanjutnya dengan tenang. ''Ngeblog kayak Raditya dika??aku bertanya pada diriku sendiri, tapi tidak kupungkiri aku sangat tertarik dengan ide suamiku tapi aku ga tahu harus nulis apa. Aku terdiam aku memandangnya, sepertinya suamiku tahu aku butuh ide tema tulisanku, dia meraih tanganku dan menggegamnya "Tentang kita, apa yang kita jalanin, yang menjadi pilihan kita" kata suamiku mantap. Aku berfikir sejenak "Sebuah Pilihan" kataku bersemangat. Aku tersenyum melirik suamiku,dengan gemas suamiku mencium keningku dan berkata "Ini baru istriku".
Dalam Penatpun allah selalu ada buat ku. Thanks for my Hubby, I love u so much!

Senin, 30 Mei 2011

Sebuah keikhlasan

"Bip...Bip..." Sebuah sms masuk ke hape ku. Aku lirik sebentar, dari sahabatku Imunk, langsung ku sambar Hp ku.,.,"Sebuah pilihan yang sulit buO..."begitu awal kalimatnya "aku harus gimana????" aku menarik nafas panjang,dengan tanda tanya lebih dari satu, itu menandakan sahabatku benar-benar bingung. "Sebenarnya jawabanku sudah jelas" gumamku dalam hati. Kemarin Buim (begitu biasa aku memanggilnya) Telfon bahwa ada kesempatan buat jadi Dosen tempat kami menimba Ilmu S1 dulu di Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta dari DIKTI, dia bilang kemarin di telfon dosen pembimbing kami, Pak Puja. Aku terdiam sejenak memilih-milih kata mencoba memberikan solusi dan meyakinkanya. "Menurutku buIm harus ambil kesempatan ini, buIm ingat kan apa kata Pak Puja dulu, sebelum kita bertiga lulus, salah satu dari kita harus ada yang temanin beliau di UNS. Pokoknya kamu harus berusaha semakimal mungkin" setelah ku baca berkali-kali sms itu aku kirim. Belum juga terkirim smsku, sms dari Imunk masuk lagi "Selamat malam Pak Puja. Bapak sebelumnya saya mohon maaf, saya tidak bisa menerima tawaran Bapak kemarin dengan berbagai alasan yang tidak bisa saya sebutkan. Saya minta maaf Bapak. Mungkin nanti, saya akan coba cpns untuk masuk di UNS, tapi mungkin buka lewat jalur ini. Biar nanti surat rekomendasinya saya serahkan sama Rina. Terimakasih." Aku menghela nafas panjang mencoba meresapi apa yang baru saja dilakukan sahabatku... Saat itu aku bener-bener pengen berada disampingnya, memeluknya, dan meyakinkanya bahwa ini ga bener, kesempatan ini harus diambil. Pi aku mencoba berada dalam posisinya sekarang, dan mungkin ini memang yang terbaik. Dia korbankan kesempatan yang sangat jarang dan bagus, hanya karena dia tidak mau diomongin oleh temannya dibelakang, buat gunjingan sana-sini, dia ga mau sakit hati. Hmhmhm... betapa sahabatku diberi hati yang sangat lapang dan keiklasan yang luar biasa. Bagimana bisa kesempatan masa depan dan kesempatan karir yang sangat bagus dilepas begitu saja. "buIm,., apa kata Pak Puja?" tanya ku, aku cuma ga mau Pak Puja kecewa,.. "Belum bales bu, pa dia marah ya???" sms nya singkat, mungkin di sana sahabtku bener-bener lagi galau "Tunggu bentar lagi, biasnya kan emang agak lama, Pak Puja pasti bisa mengerti kok" Aku mencoba menenangkan nya, walaupun aku sendiri masih belum mengerti, apa ini benar-benar yang terbaik, apa dibenarkan mengorbankan kesempatan karier buat teman. Lamunanku buyar saat sebuah pesan, masuk ke hp ku "Ya mbak Murni, sebenarnya saya agak menyayangkan kamu lepas kesempatan ini. Kamu yang lebih tahu mana yang harus dipilih. Tuhan selalu memberikan yang terbaik. Dan pasti Tuhan melipatgandakan kebaikan mu". Aku tersenyum, mungkin disana buIm juga tersenyum dan sejenak berfikir, pa yang terjadi dalam seminggu terakhir ini. "Semoga semua yang dilakukan sahabatku ga sia-sia" doa ku lirih.

Jumat, 27 Mei 2011

First Love

"Ya itu sudah menjadi pilihanmu... kamu harus mempertanggung jawabkanya" kata itu mungkin pernah dilontarkan orang terdekat, saat kita buntu untuk menyelesaikan masalah akibat keputusan yang kita ambil. Hmhmhm... Hidup ini adalah sebuah pilihan... Bahkan tiap pagi saat kita membuka mata..Oh.. no..no..no.. jauh sebelum itu, ketika mau tidur, kita sudah membuat pilihan besok harus bangun pagi-pagi atau telat bangun... Dan percayalah, alam bawah sadar menyimpan apa yang kita putuskan saat itu.
Teringat, tahun 2004 saat SMA kelas 2, aku putusin untuk berpacaran dan tu adalah cinta pertamaku, telat banget ga sih???. Waktu itu semua berubah begitu saja, cinta membuatku panas dingin, jadi suka mandi, harus selalu wangi, dan belajar caranya berbagi, menghargai perbedaan, sungguh sangat mempesona. Tetapi apa yang terjadi dengan nilai raport??? Saudara-saudara sekalian pasti bisa menebak, semuanya turun walaupun ga sampek merah. Dengan bijak Ayah cuma tersenyum dan bilang "Masih ada semester depan buat memperbaikinya" tanpa memberikan ceramah yang panjang lebar tapi tetap aku temukan kekecawaan yang mendalam di wajah beliau yang letih.
Aku tersenyum dan memaksa fikiranku tuk mengulang rekaman hal-hal bodoh yang kulalui bersama kekasih tercinta. Pergi berdua setiap weekend, saling menatap dengan tatapan yang teduh mengikis keegoisanku yang kronis, yang tersisa hanya saling mengerti dan menghargai,  kehangatan genggaman tanganya merubah keraguan menjadi kenyamanan yang sungguh tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Ayah membiarkanku merasakan itu semua yang dia tahu, tidak pernah diajarkan disekolah manapun dan walaupun Ayah benar-benar tahu nilai raport putri kecilnya akan turun, dan itu berarti dia kecewa.
"BIARKAN DIA TUMBUH dan biarkan dia memutuskan sesuatu yang disukainya dan dianggapnya benar, sekarang dia pasti sudah menjadi lebih bijaksana" tak sengaja aku dengar pembicaraan Ayah dengan Ibu, saat Ibu protes kenapa aku ga dihukum.
Ayah telah mengajariku mengambil keputusan dan menerima resiko yang aku ambil. aku menghela nafas panjang dan saat itu tekadku sudah bulat "Aku akan memperbaiki semuanya di semester depan, dan aku tidak akan mengecewakan Ayah lagi".