"Bip...Bip..." Sebuah sms masuk ke hape ku. Aku lirik sebentar, dari sahabatku Imunk, langsung ku sambar Hp ku.,.,"Sebuah pilihan yang sulit buO..."begitu awal kalimatnya "aku harus gimana????" aku menarik nafas panjang,dengan tanda tanya lebih dari satu, itu menandakan sahabatku benar-benar bingung. "Sebenarnya jawabanku sudah jelas" gumamku dalam hati. Kemarin Buim (begitu biasa aku memanggilnya) Telfon bahwa ada kesempatan buat jadi Dosen tempat kami menimba Ilmu S1 dulu di Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta dari DIKTI, dia bilang kemarin di telfon dosen pembimbing kami, Pak Puja. Aku terdiam sejenak memilih-milih kata mencoba memberikan solusi dan meyakinkanya. "Menurutku buIm harus ambil kesempatan ini, buIm ingat kan apa kata Pak Puja dulu, sebelum kita bertiga lulus, salah satu dari kita harus ada yang temanin beliau di UNS. Pokoknya kamu harus berusaha semakimal mungkin" setelah ku baca berkali-kali sms itu aku kirim. Belum juga terkirim smsku, sms dari Imunk masuk lagi "Selamat malam Pak Puja. Bapak sebelumnya saya mohon maaf, saya tidak bisa menerima tawaran Bapak kemarin dengan berbagai alasan yang tidak bisa saya sebutkan. Saya minta maaf Bapak. Mungkin nanti, saya akan coba cpns untuk masuk di UNS, tapi mungkin buka lewat jalur ini. Biar nanti surat rekomendasinya saya serahkan sama Rina. Terimakasih." Aku menghela nafas panjang mencoba meresapi apa yang baru saja dilakukan sahabatku... Saat itu aku bener-bener pengen berada disampingnya, memeluknya, dan meyakinkanya bahwa ini ga bener, kesempatan ini harus diambil. Pi aku mencoba berada dalam posisinya sekarang, dan mungkin ini memang yang terbaik. Dia korbankan kesempatan yang sangat jarang dan bagus, hanya karena dia tidak mau diomongin oleh temannya dibelakang, buat gunjingan sana-sini, dia ga mau sakit hati. Hmhmhm... betapa sahabatku diberi hati yang sangat lapang dan keiklasan yang luar biasa. Bagimana bisa kesempatan masa depan dan kesempatan karir yang sangat bagus dilepas begitu saja. "buIm,., apa kata Pak Puja?" tanya ku, aku cuma ga mau Pak Puja kecewa,.. "Belum bales bu, pa dia marah ya???" sms nya singkat, mungkin di sana sahabtku bener-bener lagi galau "Tunggu bentar lagi, biasnya kan emang agak lama, Pak Puja pasti bisa mengerti kok" Aku mencoba menenangkan nya, walaupun aku sendiri masih belum mengerti, apa ini benar-benar yang terbaik, apa dibenarkan mengorbankan kesempatan karier buat teman. Lamunanku buyar saat sebuah pesan, masuk ke hp ku "Ya mbak Murni, sebenarnya saya agak menyayangkan kamu lepas kesempatan ini. Kamu yang lebih tahu mana yang harus dipilih. Tuhan selalu memberikan yang terbaik. Dan pasti Tuhan melipatgandakan kebaikan mu". Aku tersenyum, mungkin disana buIm juga tersenyum dan sejenak berfikir, pa yang terjadi dalam seminggu terakhir ini. "Semoga semua yang dilakukan sahabatku ga sia-sia" doa ku lirih.
Senin, 30 Mei 2011
Jumat, 27 Mei 2011
First Love
"Ya itu sudah menjadi pilihanmu... kamu harus mempertanggung jawabkanya" kata itu mungkin pernah dilontarkan orang terdekat, saat kita buntu untuk menyelesaikan masalah akibat keputusan yang kita ambil. Hmhmhm... Hidup ini adalah sebuah pilihan... Bahkan tiap pagi saat kita membuka mata..Oh.. no..no..no.. jauh sebelum itu, ketika mau tidur, kita sudah membuat pilihan besok harus bangun pagi-pagi atau telat bangun... Dan percayalah, alam bawah sadar menyimpan apa yang kita putuskan saat itu.
Teringat, tahun 2004 saat SMA kelas 2, aku putusin untuk berpacaran dan tu adalah cinta pertamaku, telat banget ga sih???. Waktu itu semua berubah begitu saja, cinta membuatku panas dingin, jadi suka mandi, harus selalu wangi, dan belajar caranya berbagi, menghargai perbedaan, sungguh sangat mempesona. Tetapi apa yang terjadi dengan nilai raport??? Saudara-saudara sekalian pasti bisa menebak, semuanya turun walaupun ga sampek merah. Dengan bijak Ayah cuma tersenyum dan bilang "Masih ada semester depan buat memperbaikinya" tanpa memberikan ceramah yang panjang lebar tapi tetap aku temukan kekecawaan yang mendalam di wajah beliau yang letih.
Aku tersenyum dan memaksa fikiranku tuk mengulang rekaman hal-hal bodoh yang kulalui bersama kekasih tercinta. Pergi berdua setiap weekend, saling menatap dengan tatapan yang teduh mengikis keegoisanku yang kronis, yang tersisa hanya saling mengerti dan menghargai, kehangatan genggaman tanganya merubah keraguan menjadi kenyamanan yang sungguh tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Ayah membiarkanku merasakan itu semua yang dia tahu, tidak pernah diajarkan disekolah manapun dan walaupun Ayah benar-benar tahu nilai raport putri kecilnya akan turun, dan itu berarti dia kecewa.
"BIARKAN DIA TUMBUH dan biarkan dia memutuskan sesuatu yang disukainya dan dianggapnya benar, sekarang dia pasti sudah menjadi lebih bijaksana" tak sengaja aku dengar pembicaraan Ayah dengan Ibu, saat Ibu protes kenapa aku ga dihukum.
Ayah telah mengajariku mengambil keputusan dan menerima resiko yang aku ambil. aku menghela nafas panjang dan saat itu tekadku sudah bulat "Aku akan memperbaiki semuanya di semester depan, dan aku tidak akan mengecewakan Ayah lagi".
Langganan:
Postingan (Atom)