Selasa, 19 Juli 2011

Gaya Hidup

Sabtu ini Dhee memilih untuk menyegarkan hati yang sempat galau akibat suasana tempat kerja yang tidak kondusif.
"Yank, besok Dhee ikut ke proyek ya!" Jumat sore Dhee menelfon Samu.
"Tapi aku sibuk sekali yank" kata Samu ragu.
"Sayank tidak perlu menemani Dhee kok, Dhee cuma mau jalan-jalan, suntuk sekali rasanya" tukas Dhee cepat, kebetulan Samu lagi mengerjakan proyek di daerah Senayan.
"Baiklah kalau begitu, besok pagi jam Enam kita berangkat" akhirnya Samu menyerah.

Jam Tujuh pagi Dhee sudah berada di kawasan Senayan, tapi masih sangat sepi, hanya ada beberapa satpam yang berjaga. Dhee baru pertama ini mengunjungi kawasan Senayan dipagi hari, biasanya cuma sekedar ke Senayan City untuk nonton kemudian langsung pulang. Tapi hari ini beda, Dhee seharian akan berada di kawasan Senayan. Dia berjalan sendiri menyusuri taman-taman yang asri, taman-taman tersebut sengaja dibuat di depan mall-mall besar, Dhee sangat senang melihat bunga yang berwarna-warni, dia bersenandung lirih, dia bener-benar mau menikmati hari ini. Pagi yg sejuk, tapi Dhee harus menggunakan masker untuk mencegah polusi masuk ke paru-parunya melalui hidung. Namun, hal itu sama sekali tidak menggagu apa yg sedang dinikmatin oleh Dhee. Dia berjalan memutar, menyeberang jalan dengan berjingkat-jingkat. Dia amati satu persatu gedung-gedung yang menjulang tinggi, dari mulai bank, mall, kantor pemerintahan, tak ketinggalan pedagang-pedagang kecil di sepanjang trotoar kawasan itu.
"Tinggal pilih" batin Dhee.
Dia teringat saat pertama kali memperoleh kerja di Jakarta Dua tahun lalu, HRD perusahaan itu bilang "Dhee, di Jakarta semua tersedia, makanan, pakaian, kebutuhan pokok, dengan harga yang sangat variatif dari yang harganya ribuan sampai jutaan. Dhee tinggal pilih,mau bergaya hidup seperti apa"
Dhee menarik nafas panjang dan menghempaskanya pelan. "Dhee tinggal pilih mau bergaya hidup seperti apa" kata-kata itu selalu terngiang ditelinga nya. "Jika mau makan sederhana warteg (Warung Tegal) menyebar di seluruh penjuru kota Jakarta, kalau mau makan yang mahal tinggal masuk Mall seperti ini, kalau mau beli baju sederhana, banyak dijual di pasar-pasar, namun yang bermerek juga banyak. Dan kita bisa memilih apa yang kita sukai"
Dhee memperhatikan kembali orang-orang yang berlalu lalang di depanya, para karyawan mall yang mulai berdatangan dengan Kopaja (bus umum), dengan berbagai gaya mereka, dari yang sederhana sampai yang bermake up tebal. Pukul 10.00 WIB mall mulai buka, Dhee bergegas menuju toilet, karna memang sudah dari pagi menahan buang air kecil. Di toilet dia bertemu dengan cleaning service yang sangat tidak ramah.
"Mungkin memang harus berpakaian branded, supaya dihargain" gumam Dhee dalam hati, memang dimana-mana jabatan, kekayaan, akan mempengaruhi banyak hal. Tapi sebenarnya yang paling berharga adalah jiwa yang bersih.
"Andai semua orang berfikir sama sepertiku" Dhee masih tidak habis fikir, kenapa orang-orang susah banget menghargai orang lain, dan selalu me-judge orang dari penampilan luarnya, tapi Dhee tidak memusingkan masalah tersebut, toh sekarang dia bahagia dengan segala kenikmatan yang dimilikinya, yang di anugerahkan Tuhan kepadanya dan keluarganya. Dhee kembali berjalan-jalan keliling mall, sekarang pemandangan tampak kontras dengan pagi tadi, pengunjung mall dengan mobil-mobil  mewahnya mulai berdatangan, memilih-milih barang yang walaupun sudah didiskon masih sangat mahal menurut Dhee.
Matahari mulai menampakkan keperkasaannya, panas menyengat dirasakan Dhee saat dia memutuskan untuk keluar dari mall.
"Bip.,.bip..." Hp Dhee bergetar, ternyata telfon dari Samu.
"Makan siang yuk, Syank mau makan dimana?" tanya Samu diseberang telfon.
"Mau makan yang biasa wat makan siang" kata Dhee mantab.
"Okey, aku tunggu di taman" kata Samu mengakhiri telfonnya.
Dhee berjalan ke arah taman yang di maksud Samu. Dhee berjalan menyusuri trotoar sambil matanya bergerak-gerak lincah mencari Samu, akhirnya Dhee menemukan suaminya, Samu melambai-lambaikan tanganya dan Dhee berlari kecil menghampirinya. Samu langsung menggandeng tangan Dhee dan pergi makan siang. Sepanjang perjalanan mereka bercanda riang gembira.
"Sayank, mang mau beli apa?" tanya Samu sambil menatap istrinya.
"Ga ada" jawab Dhee singkat sambil menggelengkan kepalanya.
Samu hanya tersenyum gemas melihat tingkah istrinya. Agak heran dengan apa yang dilakukan Dhee hari ini, Dhee tidak suka jalan-jalan ke mall apa lagi tanpa tujuan membeli sesuatu barang yang diinginkanya. "Sebenarnya apa yang dia inginkan Dhee" Samu bertanya-tanya pada dirinya sendiri, dia tidak mau menanyakan ke Dhee karena takut merusak suasana hatinya. Hari ini dilihatnya rona kebahagiaan terpancar dari wajah istrinya tersebut.
"Sayank, ntar habis meeting aku temanin jalan-jalan ya!" kata Samu di tengah-tengah aktivitas mereka makan siang.
"Okey!" jawab Dhee bersemangat, sambil mengacungkan jempolnya. Mereka terdiam sejenak menikmati makan siang mereka. "Jam berapa habis meeting nya?" tiba-tiba Dhee bertanya penuh selidik.
"Kira-kira jam setengah tiga" jawab Samu tenang, Dhee melirik jam dinding, "Masih jam setengah Satu" gumamnya. 
Setelah makan siang Samu kembali ke kantor dan Dhee pergi ke Taman, di tengah-tengah pusat perbelanjaan terdapat sebuah Taman, sebenarnya Dhee ragu apa pantas ini tempat ini di sebut Taman, di situ hanya terdapat 4 pohon Beringin yang di tempatkan di masing-masing pojok taman. Di tengah ada air mancur kecil-kecil. Tak ada satupun bunga atau rumput tumbuh di situ, semua tanah dilapisi marmer. Daun-daun kering yang jatuh dari pohon Beringin sudah langsung di sapu oleh cleaning service, sehingga tempat itu terlihat sangat bersih.
"Hmhmhm... taman apa ini?" tanya Dhee pada dirinya sendiri. Kemudian dia duduk di bawah pohon Beringin, dan pada saat bersamaan air mancur kecil-kecil memancarkan airnya bergantian, seperti berirama. Dhee sangat senang sekali, kesejukan mengalir di hatinya, angin sepoi-sepoi menerpa rambut Dhee menambah kenyamanan tempat itu. Angin sepoi-sepoi itu, lambat laun berubah menjadi angin besar yang menerbangkan daun-daun kecil kesana-kemari. Dhee tersenyum menikmati hari ini, dia pejamkan matanya dan membiarkan angin masuk ke dalam tubuhnya menembus pori-pori kulitnya. Dan dia mulai menuliskan apa yang dia rasakan saat ini, sebelum akhirnya Samu menjemput Dhee untuk pergi jalan-jalan dan meninggalkan taman kecil itu.
PS : Hanya diri kita sendiri yang tahu apa yang membuat kita benar-benar bahagia.

Rabu, 13 Juli 2011

Luangkan Waktumu

Sabtu sore di rumah kecil, rumah yang sederhana, cukup buat pasangan baru, di depan rumah terhampar rumput hijau dan sebuah pohon jeruk, menambah keasrian rumah kecil itu. Dhee dan Samu sedang duduk bersama di teras rumah menikmati suasana sore yang indah. Terlihat anak-anak kecil berlarian mengejar bola, tawa canda mereka terdengar sampai rumah kecil yang damai itu.
Dhee duduk didekat Samu, suaminya, "Sayank dhee mau cerita" kata dhee membuka pembicaraan.
"Cerita apa?" sambut Samu sekenanya.
"Sayank masih ingat Sofi ga?" Tanya dhee.
"Teman dhee ditempat kerja dulu kan!" tanggap Samu cepat, ternyata Samu menyimpan semua cerita Dhee dengan baik. "Dulu kan dhee pernah cerita, orang tuanya cerai, dan menikah dengan mantan pacarnya" kata Samu mengulang cerita Dhee setahun yang lalu. “Trus gimana tu akhirnya, bahagia ga?” Tanya Samu sekenanya.
Dhee hanya mengangkat bahunya. “Sebegitu berpengaruhnya ya, mantan terhadap hubungan rumah tangga” kata Dhee datar, sambil matanya menerawang jauh.
“Jangan bilang kamu ingat dengan mantan mu?” kata Samu memasang muka galak, Dhee hanya melirik Samu sebentar kemudian kembali menerawang jauh. Samu semakin kesal di buatnya. Mereka terdiam sejenak.  
“Dhee tadi ngobrol ma teman SMA, si Agni, ingat kan!” Dhee menatap Samu, Samu hanya mengagguk, mengartikan dia masih ingat. “Dulu kan dia pacaran 5 tahun dengan Pras, trus akhirnya pisah dan menikah dengan Satya, Pras waktu itu harus menjalani masa dinas setahun sehingga ga bias menikahi Agni, sedangkan orang tua Agni mengharuskan Agni menikah tahun itu juga, tapi mereka masih saling mencintai, dan sekarang setelah mereka masing-masing mempunyai dua anak, mereka merajut kembali tali kasih mereka” Dhee menarik nafas, melirik Samu.
“Selingkuh?” Tanya Samu.
”Yups, padahal jika dilihat Agni tu beruntung banget dapat Satya, baik, pintar, kaya, ganteng lagi” kata Dhee mantab.
“Tapi kan kita cuma bisa ngeliat luarnya aja Dhee, ga bakal tahu dalamnya kayak gimana” kata Samu sambil membelai mesra rambut istrinya.
“Iya sih.. kata Agni dia ngerasa sangat tertekan dan putus asa menghadapi pernikahanya dengan Satya, dia selalu direndahkan karna waktu itu Agni ga kerja, sebenarnya Agni ga kerja juga wat ngurus anak-anak mereka, dan mereka sudah lebih dari cukup, buat apa harus memaksakan diri kerja, seharusnya masalah kayak gitu kan bias dibicarain” kata Dhee mulai terbawa emosinya.
“Dhee,.. setiap orang berumah tangga itu bakal ada satu titik kritis, apabila bias melewati titik itu, rumah tangga akan langgeng selamanya, pi kalau ga bisa lewatin masa itu, semua akan hancur” kata Samu sambil menggenggam tangan istrinya, “Ingat kan cerita Ibu?”
Dhee menatap Samu dan mengingat kembali cerita Ibu nya, dulu saat sudah punya dua anak Ibu ma Ayah sempat mau cerai karena perselisihan faham, untung waktu itu Ayah bisa mengendalikan emosinya. “Beberapa hari ni Dhee merasa semdiri Sam…” kata Dhee kemudian, Samu menyimak setiap kata yang terucap dari bibir istrinya, “Dhee mau Sam lebih banyak waktu buat Dhee, ga perlu kuantitas kok, pi kualitas” lanjut Dhee sambil menunduk dan memain-mainkan kaki nya. “Kita jarang ngobrol, hari ini pun karna aku paksa kamu plang lebih awal kan!”
Samu menghela nafas panjang, dia baru tahu apa yang diinginkan istrinya, dia sadar betul akhir-akhir ini dia sibuk sekali dengan pekerjaannya, dia baru ingat beberapa hari lalu Dhee cerita ada orang beberapa kali menghubunginya, pi karna waktu itu Samu sangat sibuk, dia tidak terlalu menanggapi cerita Dhee, “Sayank…. ku ga akan biarkan kamu sendiri lagi, Aku janji…” kata Samu sambil mendekap Dhee erat-erat, kata-katanya yang teduh terdengar sangat mendamaikan hati Dhee. Dhee tersenyum dan wajahnya memerah, karna merasa betapa sangat berartinya dia bagi Samu. Padahal sama sekali tidak terfikirkan oleh Dhee untuk menghianati cinta Samu yang sangat besar kepadanya. Sebenarnya Dhee juga sangat percaya pada Samu, tapi bagaimanapun juga Dhee wanita biasa yang pasti sangat membutuhkan perhatian lebih dari orang yang paling dicintainya di dunia ini.

P.S : Bagi para suami… jangan pernah biarkan istrimu mendapat perhatian dari orang lain bila tak mau kehilanganya