"Ya itu sudah menjadi pilihanmu... kamu harus mempertanggung jawabkanya" kata itu mungkin pernah dilontarkan orang terdekat, saat kita buntu untuk menyelesaikan masalah akibat keputusan yang kita ambil. Hmhmhm... Hidup ini adalah sebuah pilihan... Bahkan tiap pagi saat kita membuka mata..Oh.. no..no..no.. jauh sebelum itu, ketika mau tidur, kita sudah membuat pilihan besok harus bangun pagi-pagi atau telat bangun... Dan percayalah, alam bawah sadar menyimpan apa yang kita putuskan saat itu.
Teringat, tahun 2004 saat SMA kelas 2, aku putusin untuk berpacaran dan tu adalah cinta pertamaku, telat banget ga sih???. Waktu itu semua berubah begitu saja, cinta membuatku panas dingin, jadi suka mandi, harus selalu wangi, dan belajar caranya berbagi, menghargai perbedaan, sungguh sangat mempesona. Tetapi apa yang terjadi dengan nilai raport??? Saudara-saudara sekalian pasti bisa menebak, semuanya turun walaupun ga sampek merah. Dengan bijak Ayah cuma tersenyum dan bilang "Masih ada semester depan buat memperbaikinya" tanpa memberikan ceramah yang panjang lebar tapi tetap aku temukan kekecawaan yang mendalam di wajah beliau yang letih.
Aku tersenyum dan memaksa fikiranku tuk mengulang rekaman hal-hal bodoh yang kulalui bersama kekasih tercinta. Pergi berdua setiap weekend, saling menatap dengan tatapan yang teduh mengikis keegoisanku yang kronis, yang tersisa hanya saling mengerti dan menghargai, kehangatan genggaman tanganya merubah keraguan menjadi kenyamanan yang sungguh tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Ayah membiarkanku merasakan itu semua yang dia tahu, tidak pernah diajarkan disekolah manapun dan walaupun Ayah benar-benar tahu nilai raport putri kecilnya akan turun, dan itu berarti dia kecewa.
"BIARKAN DIA TUMBUH dan biarkan dia memutuskan sesuatu yang disukainya dan dianggapnya benar, sekarang dia pasti sudah menjadi lebih bijaksana" tak sengaja aku dengar pembicaraan Ayah dengan Ibu, saat Ibu protes kenapa aku ga dihukum.
Ayah telah mengajariku mengambil keputusan dan menerima resiko yang aku ambil. aku menghela nafas panjang dan saat itu tekadku sudah bulat "Aku akan memperbaiki semuanya di semester depan, dan aku tidak akan mengecewakan Ayah lagi".
Tidak ada komentar:
Posting Komentar