Kembali Dhee mematut-matut diri di depan kaca, entah yang keberapa kali nya dalam sore ini dia memandangi dirinya dalam cermin itu, lebih spesifiknya dia memperhatikan tahi lalatnya yang ada dihidung nya. "Bentuknya segitiga" gumam Dhee. Dah seminggu ini tiba-tiba tahi lalatnya itu mengeras dan gatal. Dhee jadi takut tapi juga tak berani ke dokter, dia takut dokter akan menyarankan untuk mengambil tahi lalatnya. Dia tutup tahi lalat itu dengan jari telunjuknya kemudian melihat ke cermin dan tersenyum-senyum sendiri. "Kayaknya ga terlalu buruk jika aku tak bertahi lalat di hidung se gede ini" gumamnya kembali. Dhee menarik nafas panjang, kemudian dia rebahkan badanya di kasur.
---
Pulang kerja Samu mendapati istrinya sedang malas-malasan dan tak bersemangat, Samu langsung menghampiri dan mencium keningnya.
--
Siang itu kuliah Kapita Seleksa Fisika 2 yang di ampu oleh Bapak Widha. Seperti biasa Dhee, Indah, dan Imunk duduk dibarisan terdepan. Siang itu kuliah berjalan sepertri biasa, dengan penuh jenaka Pak.Widha membawakan mata kuliah tersebut. Bukan Dhee namanya kalau diam, Dhee menyenggol-nyenggol Imunk, setelah Imunk melihat ke arah Dhee, Dhee menunjuk ke Indah. Indah lagi asyik mengkorek-korek komedonya dengan tutup bolpoint, tu memang kebiasaan Indah, walaupun mereka melihatnya tiap hari namun bagi Dhee dan Imunk pemandangan itu tetap lucu. Dhee dan Imunk mulai cekikikan. Indah yang merasa ditertawakan menyadari kebiasaan buruknya itu dan menghentikanya. "Abis enak sih.. krenyes..krenyes.." katanya berbisik sambil tertawa tertahan. Setelah itu ada saja yang mereka diskusikan, pastinya di luar mata kuliah yang sedang dijelaskan. Pelajaran itu akhirnya selesai juga, kelas berubah menjadi riuh, banyak yang langsung berdiri dan meliuk-liuk kan badanya, pegal karena dua jam duduk di bangku kuliah yang terbuat dari kayu itu.
Nilai mata kuliah yang ditempuh semester 7 sudah terpampang di papan pengumuman, dengan tergesa-gesa Dhee menuju ke kampus itupun setelah di beri tahu Indah dan Imunk, di tangga kampus dia bertemu dengan Indah dan Imunk yang sudah melihat nilai mereka dan terlihat sangat jelas bahwa mereka puas.
Masing-masing dari mereka mendapatkan pembimbing yang berbeda namun kali ini mereka senasib sang pembimbing tidak ada satupun yang diruangan.
Semua itu akan menjadi kenangan terindah buat Dhee, dan dia tidak mungkin lagi menikmati moment-moment spesial itu. Tidak akan ada lagi cerita tentang tahi lalat itu.
NB : Terimksih buat semua orang yang sayank ma Dhee dan terima Dhee apa adanya senatural mungkin suka. Love u All.
---
Pulang kerja Samu mendapati istrinya sedang malas-malasan dan tak bersemangat, Samu langsung menghampiri dan mencium keningnya.
"Sayank kenapa?.. tumben ga bersemangat" tanya Samu dengan penuh cinta, Dhee cuma menatap Samu dan menunjuk tahi lalatnya. Samu menggreyitkan kening dan mencoba memeriksanya lebih dekat. "Kita ke dokter ya Sayank.." katanya kemudian, tanpa menunggu jawaban Dhee, Samu bangkit dari duduknya dan bersiap tuk mandi.Akhirnya sore itu Dhee pergi ke dokter Spesialis kulit ditemani Samu.
"Selamat sore ibu..." sambut sang perawat ramah. "Ada keluhan apa ni?" tanyanya sambil mempersilahkan Dhee dan Samu duduk.
"Tahi lalat ni mbak, tambah besar, bentuknya ga rata, trus seminggu ini mengeras" kata Dhee menjelaskan.
"O.. iya..ya..." kata perawat itu sambil mencatat-catat apa yang dikatakan Dhee, "Langsung aja diperiksa dokter ya bu.." kata nya sambil langsung menyilahkan Dhee masuk ke ruangan dokter.
"Selamat sore,dok.." sapa Dhee sambil tersenyum .
"Selamat sore juga..." sambut sang dokter, "di periksa ya.."katanya mempersilahkan Dhee duduk di tempat pemeriksaan. "Ini sudah lama mengerasnya?"
"Baru seminggu dok... gak papa kan dok?" tanya Dhee mulai kwatir.
"Ini harus di angkat bu, soale bentuknya ga rata begini, menghitam" kata sang dokter setelah memeriksa tahi lalat Dhee. "Kalau setuju mau operasi datang lagi hari Sabtu ya..."
"Iya dok..." kata Dhee. Setelah bertanya beberapa hal dan meminta persetujuan Samu, Dhee pamit dan membuat janji dengan dokter untuk operasi kecil besok Sabtu pagi.Samu melihat raut muka sedih di wajah Dhee, mereka tak berkata banyak, Samu hanya menggenggam erat tangan Dhee dan menatapnya "Semua akan baik-baik saja Sayank.. ga ada yang perlu di kwatirkan" begitulah kira nya arti tatapan Samu.
"Apa kau akan tetap mencintaiku?" tanya Dhee di tengah perjalanan pulang dengan muka serius. Samu hanya menatapnya sekilas kemudian terkekeh, menahan tawa. Dhee akhirnya ikut tersenyum, dia menyadari pertanyaan bodohnya itu. "Abis.. nanti kalau dioperasi ga ada tahi lalat nya lagi, nanti Dhee akan jadi orang yang berbeda, kayak bukan Dhee" kata Dhee menerawang. Samu hanya tertawa melihat tingkah Dhee.---
"Buim....Bubur.... aku mo operasi tahi lalat ni,... kata dokternya suruh angkat aja, padahal kan banyak banget kenangan terindah dari tahi lalat ku ya bu... huhuhu"Dhee menuliskan pesan singkat ke sahabatnya Imunk dan Indah, tak membutuhkan waktu lama untuk Imunk membalas sms Dhee.
"Walah... bahaya ya Dhee..?Karena tahi lalat itu nilai Kapita Selekta Fisika 3 mu dapat B Dhee... hahahaha"
Secepat perambatan cahaya memori Dhee memutar kembali saat, dia dan dua sahabatnya Imunk dan Indah duduk di bangku kuliah.
--
Siang itu kuliah Kapita Seleksa Fisika 2 yang di ampu oleh Bapak Widha. Seperti biasa Dhee, Indah, dan Imunk duduk dibarisan terdepan. Siang itu kuliah berjalan sepertri biasa, dengan penuh jenaka Pak.Widha membawakan mata kuliah tersebut. Bukan Dhee namanya kalau diam, Dhee menyenggol-nyenggol Imunk, setelah Imunk melihat ke arah Dhee, Dhee menunjuk ke Indah. Indah lagi asyik mengkorek-korek komedonya dengan tutup bolpoint, tu memang kebiasaan Indah, walaupun mereka melihatnya tiap hari namun bagi Dhee dan Imunk pemandangan itu tetap lucu. Dhee dan Imunk mulai cekikikan. Indah yang merasa ditertawakan menyadari kebiasaan buruknya itu dan menghentikanya. "Abis enak sih.. krenyes..krenyes.." katanya berbisik sambil tertawa tertahan. Setelah itu ada saja yang mereka diskusikan, pastinya di luar mata kuliah yang sedang dijelaskan. Pelajaran itu akhirnya selesai juga, kelas berubah menjadi riuh, banyak yang langsung berdiri dan meliuk-liuk kan badanya, pegal karena dua jam duduk di bangku kuliah yang terbuat dari kayu itu.
"Eh.. kalian tu ya daritadi rame sendiri" kata sang dosen menunjuk ketiga sekawan itu, dan pasti Dhee menjadi tersangka utama. Dhee cuma nyengir, "Gara-gara tahi lalat yang gede di hidung itu, makanya ga isa diam" sambung sang dosen. Satu kelas tertawa serentak menoleh ke arah Dhee, yang membuat mukanya merah padam karena malu.
"Bapak juga punya tahi lalat gede di alis" gumam Dhee sambil bersungut-sungut, suaranya sangat pelan sebenarnya, tapi ajaib sang dosen seperti punya indera ke enam yang mampu menagkap frekuensi suara Dhee yang sangat rendah.
"O iya.. aku juga punya tahi lalat di alis ya..." kata sang dosen sambil terbahak, Dhee langsung menunduk takut, sedangkan Imunk dan Indah tertawa bahagia sekali.Karena moment tahi lalat itu sang dosen jadi tahu nama Dhee, saat semester 7 Dhee memutuskan mengikuti Program Pendampingan SMK ke Maluku Utara selama tiga bulan, otomatis dia tidak bisa mengikuti kuliah tatap muka. Padahal masih ada beberapa mata kuliah yang harus di tempuh, salah satunya Kapita Selekta Fisika 3 yang di ampu oleh Pak Widha dan Pak Sarwanto. Setelah kembali dari Maluku Utara di sibuk sekali mengejar ketinggalan kuliahnya, meminta ujian ke dosen-dosen, untung ada Indah dan Imunk yang selalu ada buat Dhee,selalu menjawab apapun yang di tanyakan Dhee tentang Fisika Inti dan Fisika Modern ( mata kuliah yang di tempuh saat itu ). Namun mata kuliah Kapita selekta Fisika menuntut daftar hadir karena pembelajaran di lihat dari proses bukan hasil akhir.
"Ah.. alamat ga isa wisuda tahun ini ni" keluh Dhee ke Indah dan Imunk
"Optimis.. pasti ada jalan" kata Indah menyemangati Dhee
"Iya lah Dhee tenang aja.." sambung Imunk. Dhee cuma nyengir, " yang penting dah berusaha semaksimal mungkin, apapun hasilnya, sudah bukan tugas kau lagi. Cuma tinggal berdoa dan senang-senang sobat.." katanya menepuk pundak Dhee. Dhee beuntung sekali mempunyai sahabat sebaik dan setulus Indah dan Imunk. Namun kegalauan masih menyelimuti hatinya, Dhee memaksakan tersenyum dan terlihat sangat aneh.---
Nilai mata kuliah yang ditempuh semester 7 sudah terpampang di papan pengumuman, dengan tergesa-gesa Dhee menuju ke kampus itupun setelah di beri tahu Indah dan Imunk, di tangga kampus dia bertemu dengan Indah dan Imunk yang sudah melihat nilai mereka dan terlihat sangat jelas bahwa mereka puas.
"How about me?" tanya Dhee dengan nafas ngos-ngos an
"Liat aja sendiri.." kata Indah mereka hanya tersenyum sambil berlalu.
"Kita tunggu di kantin ya Dhee" tambah Imunk menepuk pundak Dhee
"Aduh... liat tu bejubel gitu, kalian ga ngelirikin?" tanya Dhee lagi, tanpa menunggu jawaban dari Imunk dan Indah Dhee menghampiri teman-teman nya yang lain, dia ngerasa ada yang ga beres sehingga dua sahabatnya tidak mau memberi tahu nilainya, mungkin dia ga lulus. Dhee menarik nafas panjang dan menyiapkan kemungkinan terburuk.
"Ah...mana sih ni namaku?" kata Dhee ga sabar setelah dia sampai di depan papan pengumuman palagi melirik hasil ujian masih bnyak temen-temen yang dapat C dan D. Dhee makin berdebar-debar ga karuan, ketangkasan nya membaca serasa pudar begitu saja, saat itu dia benar-benar kesulitan mencari namanya. Dia urut dari atas ke bawah, dari bawah ke atas, dan kembali lagi dari atas ke bawah. Saat dia menemukan namanya dia telusuri dengan jarinya ke arah nilai-nilai yang ia dapatkan. Peluh mulai berjatuhan saat itu, Dhee terdesak ke depan... tapi Dhee harus bertahan untuk mengetahui nilainya... A A B begitulah deretan nilai itu terbaca oleh Dhee. Dhee kembali menelusuri nama nya takut salah.
"Yes.. lulus semua" kata Dhee spontan dan langsung keluar dari kerumunan teman-temanya. Teman-temnaya pada melihat Dhee dengan tatapan beragam, ada yang ikut senang, ada yang menepuk-nepuk pundak Dhee, tapi banyak juga yang sinis.
"Kok bisa sih Dhee kamu lulus semua kamu kan ga ikut kuliah tiga bulan" kata salah satu teman Dhee menghampiri Dhee, dia tidak lulus dalam mata kuliah Fisika Inti.
"Kan Dhee pintar bisa jawab semua soal" kata Dhee innocent sambil berlalu meninggalkan temanya yang terbengong-bengong.Dhee lari jingkrak-jingkrak menghampiri imunk dan indah yang menunggunya di kantin. "I am lucky girl" kata Dhee bersemangat. " I know what do you think" kata Dhee ke Indah ma Imunk. "aku memang beruntung, mkasih banyak ya my best friend.." kata Dhee sambil memeluk teman-temanya itu. Imunk dan Indah membiarkan temanya meluapkan kegembiraanya
"Berarti P.Widha kasih nilai kamu A ya Dhee?" tanya Indah
"Kemungkinan begitu karena kmarin kita jelas-jelas tahu P.Sarwanto kasih nilai aku C" kata Dhee datar
"Aku bisa wisuda bareng ma kalian" kata Dhee berharap---
"Karena tahi lalat itu, dimarahin Pak Dewanto pas dubbing-in orang lewat, pas di tangga kampus lantai 3.. hahahaha"SMS dari Indah membuyarkan lamunan Dhee tentang kuliahnya namun menyeret nya ke ruang waktu yang berbeda namun bangun ruang yang sama. Lantai 3 Gedung D FKIP UNS. Menjelang jam makan siang Dhee, Indah, dan Imunk sudah memasuki semester 8, mereka sudah harus skripsi dan konsultasi ke dosean. Hal yang paling menjenuhkan adalah menunggu.
Masing-masing dari mereka mendapatkan pembimbing yang berbeda namun kali ini mereka senasib sang pembimbing tidak ada satupun yang diruangan.
"Bosen ga?" tanya Dhee ke Imunk dan Indah
"Banget" kata Imunk sambil menghela nafas
"Dubbing in orang-orang lewat yuk, seru ni kyaknya" kata Indah, Indah mang yang paling semangat dan mempunyai segudang ide. Dhee dan Imunk langsung mengiyakan.Terlihat ada seorang mahasiswa yang tampangnya sudah semester 12 datang ke kampus bertemu dengan adik tingkatnya.
"Assalamualaikum.. ukhti kmana aja?" kata Dhee mengawali keisengan mereka
"Waalaikum salam, iya ni ukhti keenakan ngajar di sekolah" sambut Imunk ketika mahasiswa semester 12 mulai terlihat bicara
"Gemukan ya sekarang" kata Dhee lagi saat melihat sang adek kelas memegang kakak kelasDan setelah itu mereka berlalu berdua dan ngobrol bnyak... Dhee, Imunk, dan Indah ketawa-tawa karena tak bisa mengikuti lagi gerakan mimik mereka. begitu seterusnya mereka bertiga dubbing in banyak orang, jika itu ada laki-laki mereka menirukan suara laki-laki. Sampai ketika P.Dewanto sang dosen mereka lewat di depan mereka.
"Eh.. Pak De tu" kata Dhee bersemangat karena mang tu adalah salah satu dosen muda dan ganteng di tempatnya kuliah
"Dubbing-in yuk.." ajak imunk. Mereka memulai aksi mereka saat itu Pak De sedang ngobrol dengan salah satu mahasisa semester atas, mungkin anak bimbinganya. setelah berlalu Pak De berjalan ke arah mereka dengan muka sok manis dan tak bersalah mereka mengangguk dengan penuh hormat lalu tertawa terbahak setelah sang dosen berlalu.Mereka saling pandang, dan saling tahu kalau sudah sama-sama bosan.
"Kantin yuk..." ajak Dhee, Dhee tidak tahu kalau petaka akan segera menghampirinya. Indah dan Imunk mengikuti Dhee, Dhee turun tangga, mereka bertemu dengan Pak Dewanto lagi, kemudian ngerasa ada yang ketinggalan Dhee naik lagi, tapi Dhee ngerasa semua baik-baik saja dia turun berbalik arah dan berpapasan dengan Pak De."Huft... bingung ya?"tanya Pak De ke Dhee, "pegangin tu temanya biar ga jatuh" sambung nya ke Indah dan Imunk. Kita hanya saling pandang dan nyengir. "Abis keberatan tahi lalat sih, makanya ga isa diam" katanya melanjutkan
"Hahahhaha" Indah dan Imunk tertawa bahgia, sedangkan Dhee cuma bisa bengong dan menelan ludah, sedangkan Pak Dewanto berlalu begitu saja tanpa merasa bersalah. Sampai di kantin bawah Indah dan Imunk tidak bisa menahan tawanya
"Kena lagi aku.. huft" kata Dhee nyengir---
Semua itu akan menjadi kenangan terindah buat Dhee, dan dia tidak mungkin lagi menikmati moment-moment spesial itu. Tidak akan ada lagi cerita tentang tahi lalat itu.
Aah... Buim! Bu Imunk! Wkwkwk! Jadi laoshi operasi tahi lalat bukan gara-gara mo ngajar SD toh? Hehehe...
BalasHapusYa enggaklah.. ga bakal laoshi ilangin klo tu ga bikin sakit... kan itu icon laoshi.. di kenal banyak orang,.. hahahah
Hapus