Sabtu ini Dhee memilih untuk menyegarkan hati yang sempat galau akibat suasana tempat kerja yang tidak kondusif.
"Yank, besok Dhee ikut ke proyek ya!" Jumat sore Dhee menelfon Samu.
"Tapi aku sibuk sekali yank" kata Samu ragu.
"Sayank tidak perlu menemani Dhee kok, Dhee cuma mau jalan-jalan, suntuk sekali rasanya" tukas Dhee cepat, kebetulan Samu lagi mengerjakan proyek di daerah Senayan.
"Baiklah kalau begitu, besok pagi jam Enam kita berangkat" akhirnya Samu menyerah.
Jam Tujuh pagi Dhee sudah berada di kawasan Senayan, tapi masih sangat sepi, hanya ada beberapa satpam yang berjaga. Dhee baru pertama ini mengunjungi kawasan Senayan dipagi hari, biasanya cuma sekedar ke Senayan City untuk nonton kemudian langsung pulang. Tapi hari ini beda, Dhee seharian akan berada di kawasan Senayan. Dia berjalan sendiri menyusuri taman-taman yang asri, taman-taman tersebut sengaja dibuat di depan mall-mall besar, Dhee sangat senang melihat bunga yang berwarna-warni, dia bersenandung lirih, dia bener-benar mau menikmati hari ini. Pagi yg sejuk, tapi Dhee harus menggunakan masker untuk mencegah polusi masuk ke paru-parunya melalui hidung. Namun, hal itu sama sekali tidak menggagu apa yg sedang dinikmatin oleh Dhee. Dia berjalan memutar, menyeberang jalan dengan berjingkat-jingkat. Dia amati satu persatu gedung-gedung yang menjulang tinggi, dari mulai bank, mall, kantor pemerintahan, tak ketinggalan pedagang-pedagang kecil di sepanjang trotoar kawasan itu.
"Tinggal pilih" batin Dhee.
Dia teringat saat pertama kali memperoleh kerja di Jakarta Dua tahun lalu, HRD perusahaan itu bilang "Dhee, di Jakarta semua tersedia, makanan, pakaian, kebutuhan pokok, dengan harga yang sangat variatif dari yang harganya ribuan sampai jutaan. Dhee tinggal pilih,mau bergaya hidup seperti apa"
Dhee menarik nafas panjang dan menghempaskanya pelan. "Dhee tinggal pilih mau bergaya hidup seperti apa" kata-kata itu selalu terngiang ditelinga nya. "Jika mau makan sederhana warteg (Warung Tegal) menyebar di seluruh penjuru kota Jakarta, kalau mau makan yang mahal tinggal masuk Mall seperti ini, kalau mau beli baju sederhana, banyak dijual di pasar-pasar, namun yang bermerek juga banyak. Dan kita bisa memilih apa yang kita sukai"
Dhee memperhatikan kembali orang-orang yang berlalu lalang di depanya, para karyawan mall yang mulai berdatangan dengan Kopaja (bus umum), dengan berbagai gaya mereka, dari yang sederhana sampai yang bermake up tebal. Pukul 10.00 WIB mall mulai buka, Dhee bergegas menuju toilet, karna memang sudah dari pagi menahan buang air kecil. Di toilet dia bertemu dengan cleaning service yang sangat tidak ramah.
"Mungkin memang harus berpakaian branded, supaya dihargain" gumam Dhee dalam hati, memang dimana-mana jabatan, kekayaan, akan mempengaruhi banyak hal. Tapi sebenarnya yang paling berharga adalah jiwa yang bersih.
"Andai semua orang berfikir sama sepertiku" Dhee masih tidak habis fikir, kenapa orang-orang susah banget menghargai orang lain, dan selalu me-judge orang dari penampilan luarnya, tapi Dhee tidak memusingkan masalah tersebut, toh sekarang dia bahagia dengan segala kenikmatan yang dimilikinya, yang di anugerahkan Tuhan kepadanya dan keluarganya. Dhee kembali berjalan-jalan keliling mall, sekarang pemandangan tampak kontras dengan pagi tadi, pengunjung mall dengan mobil-mobil mewahnya mulai berdatangan, memilih-milih barang yang walaupun sudah didiskon masih sangat mahal menurut Dhee.
Matahari mulai menampakkan keperkasaannya, panas menyengat dirasakan Dhee saat dia memutuskan untuk keluar dari mall.
"Bip.,.bip..." Hp Dhee bergetar, ternyata telfon dari Samu.
"Makan siang yuk, Syank mau makan dimana?" tanya Samu diseberang telfon.
"Mau makan yang biasa wat makan siang" kata Dhee mantab.
"Okey, aku tunggu di taman" kata Samu mengakhiri telfonnya.
Dhee berjalan ke arah taman yang di maksud Samu. Dhee berjalan menyusuri trotoar sambil matanya bergerak-gerak lincah mencari Samu, akhirnya Dhee menemukan suaminya, Samu melambai-lambaikan tanganya dan Dhee berlari kecil menghampirinya. Samu langsung menggandeng tangan Dhee dan pergi makan siang. Sepanjang perjalanan mereka bercanda riang gembira.
"Sayank, mang mau beli apa?" tanya Samu sambil menatap istrinya.
"Ga ada" jawab Dhee singkat sambil menggelengkan kepalanya.
Samu hanya tersenyum gemas melihat tingkah istrinya. Agak heran dengan apa yang dilakukan Dhee hari ini, Dhee tidak suka jalan-jalan ke mall apa lagi tanpa tujuan membeli sesuatu barang yang diinginkanya. "Sebenarnya apa yang dia inginkan Dhee" Samu bertanya-tanya pada dirinya sendiri, dia tidak mau menanyakan ke Dhee karena takut merusak suasana hatinya. Hari ini dilihatnya rona kebahagiaan terpancar dari wajah istrinya tersebut.
"Sayank, ntar habis meeting aku temanin jalan-jalan ya!" kata Samu di tengah-tengah aktivitas mereka makan siang.
"Okey!" jawab Dhee bersemangat, sambil mengacungkan jempolnya. Mereka terdiam sejenak menikmati makan siang mereka. "Jam berapa habis meeting nya?" tiba-tiba Dhee bertanya penuh selidik.
"Kira-kira jam setengah tiga" jawab Samu tenang, Dhee melirik jam dinding, "Masih jam setengah Satu" gumamnya.
Setelah makan siang Samu kembali ke kantor dan Dhee pergi ke Taman, di tengah-tengah pusat perbelanjaan terdapat sebuah Taman, sebenarnya Dhee ragu apa pantas ini tempat ini di sebut Taman, di situ hanya terdapat 4 pohon Beringin yang di tempatkan di masing-masing pojok taman. Di tengah ada air mancur kecil-kecil. Tak ada satupun bunga atau rumput tumbuh di situ, semua tanah dilapisi marmer. Daun-daun kering yang jatuh dari pohon Beringin sudah langsung di sapu oleh cleaning service, sehingga tempat itu terlihat sangat bersih.
"Hmhmhm... taman apa ini?" tanya Dhee pada dirinya sendiri. Kemudian dia duduk di bawah pohon Beringin, dan pada saat bersamaan air mancur kecil-kecil memancarkan airnya bergantian, seperti berirama. Dhee sangat senang sekali, kesejukan mengalir di hatinya, angin sepoi-sepoi menerpa rambut Dhee menambah kenyamanan tempat itu. Angin sepoi-sepoi itu, lambat laun berubah menjadi angin besar yang menerbangkan daun-daun kecil kesana-kemari. Dhee tersenyum menikmati hari ini, dia pejamkan matanya dan membiarkan angin masuk ke dalam tubuhnya menembus pori-pori kulitnya. Dan dia mulai menuliskan apa yang dia rasakan saat ini, sebelum akhirnya Samu menjemput Dhee untuk pergi jalan-jalan dan meninggalkan taman kecil itu.
PS : Hanya diri kita sendiri yang tahu apa yang membuat kita benar-benar bahagia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar