Senin, 13 Juni 2011

Disela-sela Persiapan Seminar

Siang yang terik, aku sedang membantu mempersiapkan acara Seminar, dan terjadilah obrolan yang hangat antara aku dan Ibu Carel. Aku baru bekerja 6 bulan, jadi belum banyak yang tahu tentang aku. Apalagi tempat kerjaku dibagian yang tidak banyak berinteraksi dengan orang. "Ibu Dhee ternyata sudah menikah ya?" dengan sedikit menekankan kata menikah, Ibu Carel nampak heran, aku meliriknya, tersenyum, kemudian menggaguk kecil. " Nggak nyangka lo.. masih kayak Gadis" lanjutnya sambil memandangiku. Aku sudah biasa mendengar kata itu, Ibu Carel adalah orang yang kesekian kalinya yang memberikan komentar yang sama. Padahal menurutku aku sudah layak menyandang status menikah, bahkan suatu ketika ada yang terang-terangan bilang "Tu status di Facebook bohongan pasti" kata seorang temenku penuh keyakinan, dengan susah payah akupun harus menjelaskan kalau aku benar-benar sudah menikah. Mungkin karena perawakanku yang kecil, membuat mereka berfikir aku masih single. Kembali kepembicaraan ku dengan Ibu Carel, aku yakin pertanyaan selanjutnya pasti tentang anak, selang beberapa lama kami terdiam. "Sudah punya anak?" tanya Ibu Carel sambil menata aqua gelas. "Belum bu" jawabku pelan. "Program atau emang belum dikasih?" kali ini Ibu Carel menghentikan sejenak aktivitasnya. Hmhmhm... aku paling susah menjawab pertanyaan ini, karna banyak orang yang tidak mengerti apa niat yang ada di dalam hati. Aku diam sejenak dan akhirnya berkata "Masih dalam proses Ibu" jawabku enteng "Semoga tahun ini Ibu" kataku melanjutkan kalimatku. Ibu Carel tersenyum dengan tenang beliau berkata "Mang Ibu Dhee sudah menikah berapa tahun?" sambil kembali menatapku dengan teduh, "Aku menikah sudah 2 tahun lebih Ibu, Februari 2009 aku memutuskan menikah, waktu itu saya masih kuliah semester 7" kataku sambil mengenang kembali saat yang sangat sulit itu. "Dan semua berfikir aku hamil diluar nikah" kataku menarik nafas panjang. "Aku akan tunjukkan ke mereka bahwa aku ga seperti itu, dan aku akan tunjukkan menikah tidak akan menghambat karier". Ibu Carel diam sejenak kemudian berkata "Aku mengerti Ibu, Aku dan suamiku juga punya rencana untuk Dua tahun kedepan tidak hamil dulu". Sesaat aku tak mempercayai kata-kata Ibu Carel barusan, selama ini kebanyakan orang akan memberikan ceramah yang sama tentang anak "Semua sudah diatur oleh Sang Pencipta Hidup, jadi tidak usah terlalu kwatir" begitu mereka berucap, padahal aku tahu betul itu, dan aku sama sekali tidak meragukan Tuhanku, kalau sudah seperti itu aku biasanya diam, karna membela diripun tidak ada artinya.. Tapi kata-kata Ibu Carel tadi membuatku merasa ada orang yang sefaham denganku, aku sangat senang sekali dan ingin sekali memeluk Ibu Carel tapi takut dikira Lebay. Aku menatapnya berharap beliau mau berbagi cerita tentang ini. "Ya Ibu Dhee kami sudah bersama hampir 5 tahun, makanya kami memutuskan menikah walaupun masih banyak PR yang harus dikerjakan, kami pengen memberikan yang terbaik buat buah hati kami, walaupun mungkin terbaik menurut kami belum tentu terbaik buat Tuhan, tapi kami yakin Tuhan tahu niat baik kami. Ini adalah pilihan kami dan kami akan berjuang untuk  mempertanggungjawabkanya" katanya, dan aku sangat setuju dengan pernyataanya, aku ga tahu harus ngomong apa, aku benar-benar speakless. "Ibu bilang masih ada PR, kalau boleh tahu PR pa ya bu?" tanyaku setelah terdiam beberapa saat, Ibu Carel tersenyum "Aku masih pengen membelikan rumah buat orang tua  ku" jawabnya singkat,pandanganya menerawang jauh. Aku benar-benar sangat tersentak, selama ini aku belum pernah memberikan sesuatu yang berharga buat orang tua ku, tiba-tiba aku sangat merindukan mereka. Dan aku berdoa lirih "Ya Allah berikan selalu kesehatan buat keluarga ku, Amin". Setelah menikah aku ikut suamiku tinggal di Jakarta, jauh dari orang-orang terkasih. Setiap telfon Ibu selalu tanya, "Kapan pulang Nak?", dan aku selalu menjawab " Ibu ga usah kwatir, aku bakal pulang suatu saat nanti, aku akan tinggal dekat dengan Ibu, tapi Ibu harus ikhlas mendoakanku supaya aku bisa buat Ibu ma Bapak bangga dulu" kataku, dan biasanya Ibu menarik nafas panjang dan bilang "Amin,..".
"Eh.. Ibu Dhee kok malah ngelamun... "kata Ibu Carel membuyarkan lamunanku. "liat tu Bapak yang lagi jadi pembicara Seminar" katanya menunjuk Bapak yang lagi berbicara dengan serius, masih tampak guratan-guratan kecerdasanya, walaupun sudah berumur beliau nampak berbicara dengan lantang. "Sepertinya ga ada Negara yang belum beliau kunjungi" lanjut Ibu Carel, aku tidak tahu sama sekala tentang Bapak yang dimaksud tapi aku melihatnya lekat-lekat "Beliau pengurus Yayasan, kemarin waktu rapat yayasan beliau menegaskan bahwa harus ada Nasionalisme di sini, kita boleh mempelajari banyak bahasa Internasional, budaya Negara lain, tapi Nasionalisme harus tetap dipertahankan, padahal beliau tu jarang tinggal di Indonesia dan beliau keturunan China" Ibu Carel sepertinya tahu bahwa aku tidak tahu apapun tentang Bapak itu. Aku terdiam menyimak cerita Ibu Carel dan diam-diam bangga dengan Indonesia dan segala keberagamanya. "O ya Ibu Dhee pernah nonton Film My Name Is Khan ga?" tanya Ibu Carel tiba-tiba membuyarkan fantasiku tentang Indonesia dan Nasionalisme. "Iya bu pernah, yang tentang orang muslim identik dengan teroris dan Khan ingin bilang kesemua penduduk Amerika bahwa dia bukan teroriskan!" jawabku semangat karena emang itu salah satu Film yang ku suka jadi aku ingat betul ceritanya, Ibu Carel mengguk pelan kemudian berkata "Ingat ga kata-kata Ibu nya Khan yang bilang di dunia ini tidak ada orang Muslim, Orang Kristen, Orang Yahudi, Orang Pribumi, Orang Kaya, Orang Miskin, yang ada cuma Orang Baik dan Orang Jahat, aku sangat terkesan dengan kata-kata itu dan emang benar di dunia ini hanya ada dua tipe orang, dan kita boleh memilih mana yang kita suka". Aku terdiam mencerna kalimat terakhir Ibu Carel, Orang Baik dan Orang  Jahat, aku menghela nafas panjang, aku tidak terlalu memperhatikan sedetail itu tapi aku ingat kalimatnya karena jujur aku juga sependapat dengan itu. Waktu menunjukkan pukul 15.00 WIB peserta seminar sudah mulai meninggalkan ruangan, seminar telah usai, aku dan Ibu Carel mengakhiri pembicaraan karena harus mempersilahkan peserta seminar untuk mengisi daftar hadir. "Ibu Carel makasih ya, banyak hal yang aku pelajari hari ini" kataku sebelum meninggalkan beliau dan bersiap untuk pulang. "Sama-sam Ibu" katanya dengan senyum yang menawan, Ibu Carel ni cantik luar biasa, cerdas,  dan berwawasan luas. Aku berharap suatu saat bisa ngobrol lagi dengan beliau. Dan pasti aku akan memperoleh sesuatu yang bermakna tentang hidup dan cara menyikapinya.

P.S : Thank's to Ms.Carel... semoga kita termasuk golongan orang yang baik. Amin..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar