---
Trenggalek, 1996 saat musim hujan
Aku, Naf, Lay berlari-lari kecil saat pulang sekolah siang itu, jarak sekolahku ke rumah sekitar 500 m. Sebelum kami pulang sekolah kami mencari daun pisang untuk payung kami pulang, ya.. siang itu hujan sedang mengguyur desa ku yang indah.
"Ndok... kita buka aja sepatunya, biar ga basah" kata Naf kepadaku
Aku dan Lay berpandangan dan menganngguk setuju "Iya Mbak Naf.. besokan sepatunya di pakek lagi ya" kataku sambil tertawa riang, keluguan bocah kelas 3 SD.Setelah membuka sepatu Aku, Naf, dan Lay bergegas pulang, ternyata saat kami perjalanan pulang hujan semakin deras dan payung dari daun pisang itu tak mampu melindungi kami bertiga.
"Aduh.. gimana ni.. ntar kita dimarahin ma Ibu" kata Lay takut, Aku dan naf hanya nyengir dan membayangkan apa yang terjadi sampai di rumah.Kami pun berpisah untuk menuju rumah masing-masing. Ku lihat dari jauh Naf di sambut omelan oleh Ibu nya, kemudian melewati rumah Lay, diapun sepertinya kena marah Ibu nya. Jantungku berdegup semakin kencang, hawa dingin tiba-tiba ku rasakan di sekujur tubuhku. Ayah dan Ibu ku jarang sekali marah makanya aku berusaha sebaik mungkin untuk mereka, tapi lihat diriku saat ini, basah kuyup, tas dan isinya basah, sepatupun juga basah. Tak kurasa aku sampai di pintu rumah.
"Sepi.." batinku sambil clingak-clinguk lihat seisi rumah
"Assalamualaikum" ucapku, itu sudah kebiasaanku sejak kecil, aku diajarin memberi salam saat masuk ke rumah.
"Wa'alaikum salam" jawab Ibu ku merdu, tapi suaranya belum mampu menghangatkan tubuhku yang lama-lama menggigil kedinginan. Ibu melihatku basah kuyup, tanpa kata sedikitpun dari Ibu dengan cekatan membuka tubuhku dan melilitkan handuk, beliau merebuskan air dan tidak lebih dari 10 menit, Ibu menyuruhku mandi air hangat yang telah beliau siapkan. Betapa nikmatnya mandi air hangat setelah butiran hujan mengguyur tubuhku. Aku keluar kamar mandi dan telah siap di meja makan teh hangat dan mie rebus telur, waktu itu mie rebus adalah makanan favoritku apalagi di tambah telur, itu adalah makanan istimewa, makanan yang hanya di buatkan Ibu saat aku sakit. Biasanya mie 1 bungkus di masak setengah ma Ibu dan itupun aku harus bagi dengan kakak. Aku makan dengan lahap karena memang aku sangat lapar. Ibu hanya memandangiku, aku tak terlalu memperhatikan raut wajahnya waktu itu. "Ndok.. kamu tahu, betapa bahaya nya hujan-hujanan, apa lagi angin di luar begitu kencang" kata Ibu membuka pembicaraanya, aku terdiam membayangkan betapa serunya tadi perjalanan pulang, "Ga bahaya sama sekali" batinku dalam hati. Seperti tahu apa yang aku fikirkan Ibu menambahi, "Kamu bisa sakit, buku kamu basah semua, gimna kamu bisa belajar". Dan masih banyak lagi yang Ibu bicarakan, tapi bukanya aku tak mau mendengarkan, karna tiba-tiba rasa kantuk itu menyerangku dan aku tertidur di pangkuan Ibu. Yang aku ingat hanya Ibu tidak mau sekolahku terganggu, kelanjutan sekolahku adalah harapan Ibu untuk Aku bisa hidup lebih baik.Saat aku terbangun dari tidur, aku sudah berada di kamar ku yang nyaman, ku lihat dari jendela hujan masih mengguyur kota yang dijuluki berteman hati itu.
---
Siang itu hujan mengguyur kembali desa yang asri itu, aku,mas Takim, Ibu, dan Bapak sedang duduk-duduk di beranda rumah. Aku melihat beberapa teman sedang main hujan melewati rumahku, tak beberapa lama dari jauh ku lihat Naf, Lay, dan beberapa temanku juga main hujan. Aku merengek ke Ibu untuk maen hujan, Ibu tidak mengijinkan karena takut aku sakit, Aku tak habis ide, aku dekati ayah dan memohon ke ayah untuk diijinkan maen hujan, Ayah mengijinkanku dengan syarat aku ga maen hujan lagi kalau habis hujan aku sakit. Aku setuju syarat yang diajukan ayah. Aku jingkrak-jingkrak kegirangan dan bergabung dengan teman-teman yang lain untuk maen hujan. Dan saat aku pulang Ibu telah menyiapkan air panas dan teh hangat untukku, kali ini ga ada mie rebus telur karena kata Ibu aku maen-maen ga lagi sekolah. Huwa...
---
Aku mulai menyukai hujan sejak itu, aku selalu pergi maen hujan di luar rumah dan ada teh hangat di rumah, sampai aku SMA pun aku suka sekali maen hujan, sekali lagi bukan tetesan butiran-butiran hujan itu tapi teh hangat dan mandi air hangat yang disiapkan Ibu, itulah yang istimewa. Sampai saat inipun, saat aku mempunyai keluarga kecilku sendiri dan aku jauh dari orang tua untuk hidup yang lebih baik, aku selalu menyukai hujan, aku tidak maen keluar lagi, maen hujan dan berjingkrak-jingkrak, tapi aku selalu membuat teh hangat dan mandi air panas saat hujan itu turun. Saat aku menyruput sedikit demi sedikit teh itu aku selalu bilang "I miss u mom" di setiap sruputan, tak senikmat teh yang dibikin Ibu tapi itu membuatku sangat tenang.
NB : My mom my future...
Ndok adalah panggilan untuk anak perempuan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar