Sudah seminggu ini kurasakan tanda-tanda kedatangan mu, tiap jam ku tunggu kedatanganmu dengan hati berdebar dengan berharap kau tak benar-benar muncul. Aku benci tiap bulan kau datang selalu telat, kau buat aku mempunyai mimpi sesaat untuk mewujudkan mimpiku. Aku membencimu tanpa alasan hanya karena kau menghambat satu impian terbesarku, impian yang hanya bisa terwujud jika kau tak menyapaku lagi.
Dan malam tadi, kau benar-benar datang, menyapaku dengan senyumu yang menawan, aku harus mengulang lagi dari awal, kau datang terlalu lama, aku menunggumu sudah seminggu yang lalu... aku menunggumu datang lebih cepat jika memang kau mau datang, supaya aku memulai lagi dengan cepat... Aku benci kamu, aku membencimu untuk saat ini.. maafkan aku..
Aku mohon untuk bulan depan kau tak datang lagi, beri aku kesempatan untuk memiliki seseorang yang ku damba, biarkan aku mendapatkan satu bahagia lagi.
Dan pagi ini saat aku berangkat kerja di jalan aku berkomunikasi dengan Tuhanku... "Ya Allah, kenapa dia datang lagi?" tanyaku lirih. "Karna kau belum siap untuk menerima anugerah dariku" jawabnya merdu, lirih sekali seperti hembusan nafas yang menyejukkan. "Bagian mana aku belum siap ya Allah..."tanyaku mulai menitikkan air mata. "Kau masih menanyakan keberadaanKu, meragukan kebesaranKu, apa yang Ku lakukan padamu adalah yang terbaik, percayalah padaKu". Aku terdiam sepersekian detik dan aku mau menyanggahNya lagi, tapi pasti Allah takkan suka. Aku mencoba mengerti, mencoba bersabar lagi. Dan Sabar adalah kata yang gampang sekali diucapkan namun menjalaninya sungguh sangat berat, sangat luar biasa. Kubiarkan air mataku menetes membasahi pipiku dan tenggorokanku terasa kering. Aku mengingat-ingat kata yang pernah kuucapkan pada sahabatku saat dia dalam situasi harus bersabar. "Hidup ini seperti sebuah permainan dalam komputer yang sering kita mainkan, saat kita mau naik level kita harus melewati rintangan, dan saat kita tidak bisa melewati rintangan itu, kita akan mengulangi level itu.. Huft..." mudah sekali mengatakan itu, dan aku sendiri sulit sekali untuk bisa naik level berikutnya...
Kesalahan-kesalahan yang telah ku perbuat tiba-tiba muncul begitu saja. "Gimana Allah mempercayakanku padaku hal yang lebih besar, kalo kewajibanku saja aku tak bisa penuhi, kewajiban yang sederhana" tangisku mulai reda. Aku menyadari kesalahanku dan aku akan mencoba tuk memperbaikinya, walaupun setiap bulan aku berjanji seperti itu, dan aku pasti akan mengulangi kesalahan yang sama lagi.
Tangisku mulai reda,aku muali mengingat lagi kejadian semalam, aku merasa bersalah pada suamiku, semalam aku tak menyapanya, tadi pagi aku tak menciumnya saat berangkat kerja. "Sayang maafkan aku.." wajah letih suamiku tergambar jelas dalam mataku. Aku sangat mencintainya, tapi kadang aku membuatnya kuatir, membuatnya merasa bersalah. Dan dari diamnya aku yakin dia mengharapkan hal yang sama, dalam wajah letihnya tergambar keinginan besarnya tuk segera mewujudkan mimpi itu, tapi dia masih tetap bisa tegar dan tersenyum untukku.
Tak terasa aku sudah memasuki parkir tempat kerjaku. "Ya Allah semoga hari ini menyenangkan" doa ku dalam hati.
NB : Sam... I love U. Terimakasih untuk kesabaran dan cintamu.. I am really-really love u...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar